Welcome to www.winkamaru.com

Saya Malu, Nggak Bisa Berbahasa Daerah Taliabu


Beberapa orang mungkin ada yang malu ketika berkomunikasi menggunakan bahasa daerah. Katanya “kampungan dan ketinggalan zaman…” seakan bahasa daerah adalah simbol kekunoan. Padahal sejatinya bahasa daerah adalah identitas budaya yang sangat penting dibanggakan.

Sebagai anak muda yang menguasai bahasa daerah sebaiknya ia harus bangga. Sebab saat ini tidak lagi banyak anak-anak muda yang mau mempelajari dan menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi mereka sehari-hari terutama kepada sesama ‘orang kampung’.

Artinya jika Anda bisa berbahasa daerah maka itu adalah sebuah kemajuan dan bukti cinta Anda terhadap daerah kelahiran mu.

Otomatis Anda menjadi sangat keren menurut saya…

Foto by: Win Kamaru (Jembatan Kayu Desa Gela - London )

Sebagai seorang putra taliabu yang dilahirkan dari rahim Ibu berdarah wangi-wangi dan dari gen ayah bersuku tomia. Saya adalah salah satu putra daerah yang minim penguasaannya terhadap bahasa daerah. Baik bahasa ibu maupun bahasa daerah di tanah kelahiran (bahasa taliabu).

Sejak kecil secara tidak langsung saya dipertemukan oleh perpaduan bahasa ibu yang merupakan bahasa daerah dari kepulauan wakatobi. Ayah setiap harinya berbahasa tomia dan ibu setiap saat berbahasa wanci sementara daerah kelahiran adalah taliabu.

Pengaruh inilah yang kemudian membuat saya hanya memahami arti percakapan bahasa daerah ibu tanpa bisa bercakap-cakap menggunakan bahasa — daerah dari kepulauan wakatobi — tersebut.

Tidak hanya itu bahasa daerah taliabu sekalipun yang merupakan bahasa daerah dari tanah kelahiran saya. Tidak juga begitu lekat dan cukup familiar. Padahal dari Ibu, Ayah, hingga paman dan bibi rata-rata memiliki kemampuan multilingual.

Mereka bisa berkomunikasi menggunakan bahasa asli mereka dari wakatobi bahkan bisa berbahasa taliabu.

Sementara saya yang lahir setelah generasi mereka tidak memiliki kebanggaan apapun terhadap penguasaan bahasa daerah.

Menurut ibu, dulu di kampung sebelum seperti saat ini. Setiap anak-anak kampung sejak kecil selalu menggunakan bahasa taliabu saat mereka bermain dan berkomunikasi sehari-hari.

Ibu saya menguasai bahasa daerah taliabu di masa kanak-kanaknya saat bermain dengan teman-teman seumuran pada generasi itu. Sementara penguasaan bahasa wanci dan tomia diwariskan dari keluarga. Nenek berdarah asli wangi-wangi dan kakek berdarah muna namun juga bisa berbahasa wangi-wangi.

Pada kondisi ini sebagai anak yang dipertemukan dengan zaman milenial seperti saat ini. Saya cukup malu ketika harus berhadapan dan berkomunikasi dengan teman-teman kampung. Terutama mereka yang berketurunan asli taliabu dan bisa berbahasa taliabu.

Malu karena menjadi orang taliabu tetapi tidak bisa berbahasa taliabu.

Meskipun ada beberapa percakapan yang masih bisa saya pahami dan dikomunikasikan. Tetapi tetap saja hal itu sangat minim dan tidak memberikan efek apa-apa kalau saya bisa berbahasa daerah (taliabu).

Sungguh ini adalah situasi yang tidak mengenakkan, terutama ketika ingin menyatu dengan daerah taliabu yang tercinta ini. Tetapi tidak memiliki pengetahuan budaya yang baik. Lebih-lebih tidak bisa berbahasa taliabu.