Welcome to www.winkamaru.com

Bercermin, Tak Selalu Untuk Memastikan Dirimu Ganteng atau Cantik Maksimal


Sah saja berdiri berlama-lama di depan cermin untuk melukis wajah menjadi lebih ayu, cantik atau tampan maksimal seperti gaya opa* korea atau gadis-gadisnya.

Tidak ada larangan berlama-lama di depan cermin untuk memastikan dirimu telah cukup cantik atau ganteng maksimal.

Karena bagaimanapun, tampil dengan penampilan yang super maksimal adalah sebuah usaha untuk mengukuhkan hati dan memantapkan sikap menjadi lebih percaya diri. Paling tidak itu adalah hal utama yang diinginkan setiap umat manusia.

Dengan percaya diri seseorang bisa lebih bebas mengekspresikan dirinya dan tentunya mendapatkan dukungan dan perhatian yang baik. Entah oleh bos di kantor, teman sejawat atau mungkin pada dia orang yang dijadikan gebetan.

Lagi pun, dengan berpenampilan menarik sudah tentu akan menaikkan level diri menjadi seseorang yang dipandang profesional dan dapat dipercaya. Seseorang yang berpenampilan modis dengan celana panjang rapi dan kemeja putih yang elok serta dibalut jas hitam super mewah sudah tentu akan membangun sisi hebat di dalam dirinya.

Begitulah manusia, penampilan adalah poin utama untuk membangun kepercayaan diri selain untuk menunjukkan status sosial atau sebuah profesi.

Maka seseorang yang berpenampilan seperti pengemis sudah tentu akan dianggap pengemis. Padahal, belum tentu. Bisa saja, itu si baim yang sedang menjalankan aksi pranknya atau malah adalah om intel yang sedang menjalankan tugas lapangan. Bahkan bisa juga, itu adalah penulis yang hingga hari ini tak punya pendapatan super untuk cepat-cepat nikah.

Tapi kembali lagi, bagaimanapun usaha yang dilakukan, bukan-berarti berlama-lama bercermin adalah selalu untuk menjadi ganteng atau cantik maksimal. Percaya diri adalah jawaban utama mengapa banyak orang berdiri lama di depan cermin!

Tetapi, bercermin yang sesungguhnya adalah mengetahui kebutuhan diri, kejelekan serta kelebihan.

Keburukan dan kebaikan sebaiknya tercermin bagus pada cermin-cermin yang digunakan. Dengan begitu kita tidak hanya berusaha membangun kepercayaan diri dengan tampil maksimal, super kece, mewah atau ganteng maupun cantik maksimal.

Melainkan, kita juga bercermin pada dosa dan usaha untuk memperbaiki diri berusaha menjadi lebih baik. Sehingga setiap hari kita tidak hanya membagi kebahagiaan melainkan belajar untuk kembali menjadi manusia semestinya manusia.

Bobong, 20 Februari 2020
(Ditulis pada sudut sempit dan himpitan emosional yang rapuh)

N.B
Jangan dipahami, cukup saja hape maupun layar pc yang digunakan diputar-putar searah jarum jam. Niscaya ketika pening maka lebih baik membacanya meski tak bermanfaat untuk melukis senyum dan hati yang bahagia.