Welcome to www.winkamaru.com

Titipan: Sebuah Renungan dari WS. Rendra


Bismillahirrahmannirrahiim.. Lahaula walaquwata illabillahil aliyil azhiim. Aku tahu Rabb. Bahwa kehidupan dunia pada dasarnya hanyalah sebuah titipan. Bahwa tubuhku, nyawa, dan nafasku adalah titipan. Yang sewaktu-waktu dapat diambil. Mengutip kata Rendra dalam Puisinya Renungan indah yang terakhir ditulisnya di ranjang Rumah Sakit

Mengambil apa yang Kamu titipkan padaku kusebut sebagai musibah. Padahal aku tahu bahwa apa yang aku miliki adalah sebuah titipan. Saat Kamu mengambilnya sudah sepantasnya itu akan terjadi. Kapan pun adalah hak_Mu. Tetapi, terkadang agak sedikit sulit untuk menyerahkan itu kembali pada_Mu

Semua yang menjadi milikku tanpa terkecuali adalah titipan yang sengaja Kau berikan, dan terkadang kami tidak pernah berpikir mengapa kamu menitipkan itu pada kami. Harta, Rumah, Kemewahan, Kesenangan, Nyawa, Nafas, bahkan Tubuh dan Roh ini hanyalah titipan. Sewaktu-waktu akan diambil

Aku bahkan tidak tahu mengapa setelah dititipkan aku menjadi lupa kalau apa yang telah Engkau berikan hanyalah sebuah titipan. Aku tidak tahu malu mengaku-ngaku yang kumiliki adalah kepunyaanku seutuhnya

Rabb..., kelemahan begitu lekat dengan kebodohanku. Rendra dalam puisinya membuat aku takjub ketika akhir puisinya ia tutup dengan pesan yang menyengat perasaanku

“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

Rabb, dadaku terbakar. Bukan karena malu mengakui ini. Tapi, aku ingin mengembalikan milik_Mu dengan cara yang baik-baik seperti saat dititipkannya padaku. Dengan kelemahanku, Aku hanya meminta kekuatan, meminta pertolongan, dan ampunan. Agar bisa menjaga semuanya sesuai yang diajarkan utusan-utusan_MU. Aamiin...

Gorontalo, 01 Agustus 2014. 1.41 am

Puisi: Renungan Indah
Oleh: WS Rendra

------

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus aku lakukan untuk milik-Nya itu?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru merasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian,
Kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
Ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan, seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknya derita menjauh dariku,
Dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”.

(Puisi terakhir Rendra yang ditulisnya di atas ranjang rumah sakit)
Ismawati, Esti. 2013. Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Penerbit Ombak