Welcome to www.winkamaru.com

Menanggapi Postingan Nandito Tutulung di Grup TC Tentang Kritik


Malam tadi sekitar pukul 24 Waktu Indonesia Timur saat membuka beranda facebook. Saya tertarik dengan satu jejak pendapat yang diposting seorang pemuda* bernama Nandito Tutulung pada salah satu Grup Online (Taliabu Community). Sebuah grup komunitas online putra-putri taliabu dengan beragam aspirasi.

Grub Taliabu Community adalah grup online yang cukup menarik dan memiliki dampak yang cukup berpengaruh. Grup yang nebeng pada media sosial facebook -buatan pemuda jenius Mark Zuckerberg- ini memiliki andil yang luar biasa dalam memediasi kritik dan aspirasi orang-orang taliabu pada umumnya. Bahkan banyak orang penting di taliabu segan dan khawatir jika masalah mereka diangkat di dalam grup ini dan mendapatkan banyak kritikan.

Di sana setiap mereka yang tergabung bisa menyampaikan kritik, keluhan dan sindiran mereka kepada pemerintah daerah taliabu serta instansi lain di bawahnya. Bahkan beberapa diantaranya dapat bersifat personal seperti adu argumentasi hingga kelahi mulut.

Nandito Tutulung dalam satu jejak pendapat yang diposting pada beranda grup taliabu community mengenai kegelisahan yang dialaminya. Menghimbau agar khususnya orang taliabu dapat bersaing sehat dan jangan saling menjelek-jelekan. Sebab menurutnya sikut menyikut adalah tindakan yang tidak akan memberi dampak berarti bagi kemajuan daerah taliabu.

Berikut screenshot lengkap mengenai jejak pendapat Nandito Tutulung pada beranda Grup Taliabu Community di Facebook.


Namun beberapa dari teman-teman lain yang tergabung dalam grup taliabu community memiliki tanggapan yang beragam. Bahkan cenderung mengkritik balik pernyataan postingan tersebut.

Tabea...

Dalam kesempatan kecil, saya pun ikut berkomentar di sana "Kritik itu selalu ada untuk memperbaiki. Meski memang terkadang rasanya getir. Yah... karena namanya juga kritik bukan kripik yang rasanya gurih"

***

Inti persoalan yang bisa saya interpretasikan dalam postingan sobat Nandito Tutulung tersebut adalah: Ia menghimbau agar orang-orang yang mengaku pintar jangan hanya pandai menjelek-jelekan orang hanya karena satu kesalahan yang mungkin dia perbuat lantas melupakan banyak kebaikannya.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa jika kita merasa tertindas karena janji-janji palsu yang tidak direalisasikan maka jangan hanya pandai di medsos. Sebaiknya maju bersaing dan tunjukkan bahwa anda bisa memberikan yang lebih baik.

Tidak ada yang salah dalam postingan tersebut. Tetapi beberapa teman dalam taliabu community memiliki pandangan yang berbeda dan menyatakan bahwa jika tak mau dikritik maka lebih baik jangan menjadi pemerintah.

Cukup pelik memang untuk menuliskan ini, sebab ke dua sisi memiliki pandangan dan pendapat yang baik. Tetapi untuk saya pribadi mengkritik adalah hal yang sudah biasa terjadi. Bahkan hal ini tidak perlu dipermasalahkan. Melainkan diterima sebagai testimoni dari kinerja yang kita lakukan.

Analoginya jika kita ingin membuat warung makan yang sukses dan disukai pelanggan. Maka selain pelayanan yang baik dibutuhkan. Membuat makanan yang enak dan berkualitas sangat penting untuk memuaskan pelanggan.

Maka jika suatu waktu terdapat komplain pelanggan terhadap pelayanan dan kualitas makanan yang mereka dapatkan. Itu menjadi tanggung jawab pemilik warung makan untuk memperbaiki pelayanannya dan memeriksa makanan yang diberikan kepada pelanggan apakah layak, berkualitas, dan enak atau tidak.

Ini berlaku bagi seseorang yang memiliki kedudukan dan jabatan di pemerintahan. Ia memiliki kewajiban dalam memberikan pelayanan dan memenuhi kebutuhan masyarakat dengan baik.

Jika terdapat komplain dalam hal ini kritik. Maka itu penting bagi pemerintah dalam melakukan pengecekan akan hal apa saja yang masih kurang dalam pelayanan yang mereka berikan kepada masyarakat.

Makanya kritik sebenarnya bukan musuh pemerintah melainkan kontrol dan peringatan bagi pemerintah untuk berbenah dan memberikan pelayanan yang terbaik. Sebab hal tersebut adalah tanggung jawab dari janji yang telah dia emban pada sumpah jabatan yang dilakukannya.

Menuliskan ini saya teringat salah satu scene dalam film Merah Putih saat adegan Lukman Sardi dan Teuku Rifnu Wikana berdebat kecil disebabkan Lukman Sardi sebagai pemimpin pasukan bingung untuk mengambil keputusan dan dikritik terus oleh Teuku Rifnu Wikana sebagai salah satu pasukannya.

Dalam debat kecil tersebut yang menarik adalah ketika Lukman Sardi membentak dan mengatakan "Mengapa tidak engkau saja yang menjadi pemimpin pasukan?" Jawaban Teuku Rifnu Wikana cukup filosofis. "Jika aku yang menjadi pemimpin siapa nanti yang menasehati aku?"

Sederhana namun memiliki interpretasi yang cukup luas.

Pesan yang dapat diambil dalam scene film tersebut adalah bahwa kritik bukan ungkapan kebencian melainkan nasehat untuk berbenah atau memperbaiki kesalahan. Sehingga pemimpin bisa mencari akar permasalahan yang dikeluhkan oleh masyarakat yang dipimpinnya.

Bentuk kritik itu banyak! Namun umumnya datang dari keluhan dan ketidaknyamanan yang dialami oleh masyarakat. Oleh karenanya tidak mengherankan jika terkadang kritik itu cukup memuakkan dan membuat sakit kepala.

Tapi apa boleh buat kritik akan tetap ada sebagai konsekuensi yang harus dihadapi setiap orang yang memiliki tanggung jawab besar. Lebih-lebih mereka yang menjabat sebagai pejabat pemerintahan.

Satu lagi poin yang membuat saya tertarik adalah mengenai pernyataan "Jangan hanya pandai di medsos. Jika mampu silakan bersaing dan buktikan bahwa diri anda lebih baik"

Ini menarik sebab merupakan sebuah tantangan bagi mereka yang suka mengkritik bahwa jika bisa membuktikan diri silakan bersaing dan memberikan yang terbaik.

Tapi poin ini punya proses yang kaku. Saya menyatakan poin ini kaku sebab ada kekuasaan yang tidak bisa menerima kejujuran serta menekan dengan aturan se pihak. Makanya tidak mengherankan mereka yang memiliki kedudukan di bawah sulit untuk bersuara sebab nasib dalam genggaman yang berkuasa.

Tapi tak salah jika mau berjuang! Silakan...