Welcome to www.winkamaru.com

Bagaimana Status 'Kondisi' Bahasa Daerah Taliabu Saat Ini?


Bahasa Daerah atau bahasa yang digunakan di suatu wilayah tertentu oleh sekelompok masyarakat adalah bahasa pemersatu daerah yang merupakan identitas dan ciri khas daerah serta sebagai salah satu asset budaya di daerah yang sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan.

Dikutip dari materiips.com, bahasa daerah adalah sebuah bahasa yang digunakan pada suatu regional yang ada pada suatu negara dan memiliki kawasan yang lebih kecil daripada negara tersebut. Dimana bahasa daerah hanya dipergunakan oleh sebagian warga saja seperti oleh warga yang menduduki suatu wilayah di kawasan tertentu. Oleh karenanya bahasa daerah juga sering disebut sebagai bahasa etnik atau bahasa tradisional.

Selain sebagai bahasa tradisional, bahasa daerah tidak hanya sebagai identitas daerah melainkan sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup. Hal ini sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 pasal 36 Bab XV bahwa “Bahasa daerah merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup; Bahasa daerah adalah salah satu unsur kebudayaan nasional yang dilindungi oleh negara”

Sehingga posisi dan kedudukan bahasa daerah di Indonesia merupakan salah satu asset budaya dari sebuah negara yang sangat penting dilestarikan karena dilindungi oleh negara berdasarkan undang-undang.

Melihat hal ini bahasa daerah mempunyai fungsi sebagai lambang kebanggaan yang dimiliki daerah sebagai identitas daerah dan juga sebagai alat komunikasi dalam masyarakat di daerah. Disimpulkan dalam seminar politik bahasa nasional tahun 1975 di Jakarta dalam materiips.com mengenai fungsi Bahasa daerah.

Ethnologue (2015) dikutip oleh badanbahasa.kemendikbud.go.id menyebutkan setidaknya ada sebanyak 7.102 bahasa dituturkan di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri tercatat kurang lebih sekitar 707 bahasa yang dituturkan sekitar 221 juta penduduk.

Banyaknya bahasa yang dituturkan di Indonesia menjadi suatu kebanggaan tersendiri karena menunjukkan kekayaan bahasa sekaligus keberagaman budaya yang ada di Indonesia.

Namun, di sisi lain hal ini menjadi sebuah tantangan, bahkan menjadi beban bagi kita semua untuk menjaga dan melestarikan keberadaan Bahasa-bahasa tersebut.

Ahli Bahasa telah memprediksi bahwa setengah dari Bahasa-bahasa di dunia akan mengalami kepunahan. Di negara kita Indonesia, menurut Moseley (2010) dalam buku Atlas of the World’s Languages in Danger, terdapat 146 bahasa terancam punah dan 12 bahasa daerah telah dinyatakan punah. Bahasa-bahasa tersebut umumnya berada di bagian timur Indonesia.

Bahasa-bahasa yang terindikasi telah mengalami kepunahan adalah Hukumina, Kayeli, Liliali, Moksela, Naka’ela, Nila, Palumata, Piru, dan Te’un di Maluku, Mapia dan Tandia di Papua, serta Tobada’ di daerah Sulawesi. Dikutip dari laman Badan Bahasa kemendikbud.go.id oleh penulis Adi Budiwiyanto.


Di Indonesia Timur khususnya Maluku Utara sempat diberitakan oleh taliabuposonline.com bahwa sejumlah bahasa daerah di Maluku Utara terancam mengalami kepunahan. Pengamat bahasa daerah dari Universitas Khairun Ternate Sunaidin mengatakan, dari 34 bahasa daerah Maluku Utara yang terancam punah, diantaranya Bahasa daerah Kao di Halmahera Utara yang penuturnya saat ini hanya tinggal enam orang.

Selain itu, bahasa daerah Koloncucu di Kota Ternate pun sedang diambang kepunahan dimana penuturnya kini hanya tinggal satu orang, itu pun usia penutur sudah memasuki 70 tahun lebih. Tidak hanya itu bahasa ibu di daerah Halmahera Barat pun kini hanya tersisa dua orang penutur saja.

Melihat kondisi tersebut bila tidak ditanggapi dan ditemukan solusinya dengan cepat, maka bukan hal yang mustahil bahasa-bahasa daerah yang punah di Indonesia akan bertambah lagi, selain 12 bahasa daerah yang telah dianggap punah sebagaimana yang dikemukakan oleh Moseley (2010).

Taliabu adalah salah satu daerah di Indonesia yang memiliki bahasa daerahnya sendiri. Melihat kondisi yang ada sebagaimana yang telah ditulis oleh Adi Budiwiyanto serta yang diberitakan oleh taliabuposonline.com mengenai sejumlah bahasa daerah di Maluku Utara yang terancam punah membuat kita perlu untuk berbenah diri dalam melestarikan bahasa daerah taliabu yang merupakan satu-satunya identitas asli yang kita miliki.

Jangan sampai bahasa daerah taliabu punah seperti bahasa tandia dan mapia di papua serta bahasa te’un di Maluku.

Apalagi jika melihat kondisi Taliabu saat ini, bahasa daerah taliabu nampaknya terpinggirkan dan lebih didominasi oleh bahasa daerah suku pendatang seperti bahasa daerah buton: wangi-wangi, kaledupa, tomia, dan binongko.

Beberapa bahasa daerah lain seperti bahasa bugis, bahasa muna, dan bahasa wolio dari bau-bau memang juga acap kali ditemukan dan dituturkan di taliabu, tetapi tidak semeriah dan dominan seperti pengaruh bahasa buton terutama dari kepulauan Wakatobi.

Kondisi seperti ini, tidak dapat dilarang sebab masyarakat keturunan suku buton menggunakan bahasa daerah mereka dipengaruhi oleh kebiasaan dan merupakan kegiatan komunikasi yang dapat membangun persahabatan antara masyarakat sesama suku buton yang berada di taliabu.

Selain itu, aktivitas berbahasa daerah orang suku buton dilakukan juga untuk berkomunikasi melalui jalur pelabuhan laut berkomunikasi dengan orang-orang kapal yang mayoritas adalah keturunan suku buton pula.

Sehingganya setiap adanya persinggahan kapal di pelabuhan taliabu, antara penjual makanan, pekerja kapal dan penumpang umumnya akan berkomunikasi dengan bahasa yang didominasi oleh bahasa buton (wakatobi). Kondisi seperti inilah yang kemudian membangun bahasa daerah buton di taliabu terus mengalami pelestarian oleh suku pendatang di taliabu.

Sementara bahasa taliabu acap kali hanya ditemukan di desa-desa tertentu yang umumnya berpenghuni banyak orang-orang suku asli taliabu. Seperti desa kawalo di taliabu barat, desa mintun, desa nunca, desa hai, serta beberapa desa lain yang ada di taliabu utara dan di kecamatan lede seperti desa todoli beserta desa-desa lainnya yang tidak disebutkan.

Akibat penggunaan bahasa daerah taliabu yang hanya dituturkan di wilayah yang kecil dan hanya bertempat pada desa-desa di taliabu yang berpenghuni lebih banyak orang-orang taliabu asli, membuat bahasa daerah taliabu seakan terisolasi dan hanya dikuasai oleh sedikit orang dari luar wilayah desa-desa tersebut.

Kondisi ini menjadi sangat mengkhawatirkan ditambah dengan pemuda-pemudi orang taliabu yang menguasai bahasa daerah taliabu adalah anak-anak muda yang berdarah keturunan asli suku orang taliabu. Sementara anak-anak muda taliabu yang merupakan keturunan suku orang pendatang di taliabu hanya sedikit dan beberapa yang mau mempelajari dan menguasai bahasa taliabu.

Padahal bahasa taliabu seharusnya menjadi ciri khas orang-orang taliabu seluruhnya, setidaknya menjadi wajib dipelajari oleh setiap orang taliabu baik dimulai dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari hingga menjadi kurikulum wajib dan diajarkan di sekolah-sekolah yang ada di taliabu.

Bahasa daerah adalah asset budaya di daerah yang perlu dilestarikan dan dijaga agar tidak punah dan hilang, pelestarian tersebut hanya dapat dilakukan apabila masyarakat membangun kebiasaan untuk turut berkomunikasi menggunakan bahasa taliabu.

Jika kita melihat sebagaimana pada kondisi yang ada, bahwa bahasa taliabu hanya digunakan dalam wilayah yang kecil seperti hanya pada desa-desa berpenghuni mayoritas orang suku asli taliabu membuat bahasa daerah taliabu perlahan-lahan akan menjadi bahasa yang dituturkan oleh sebagian kecil masyarakat saja.

Lambat laun bila kondisi ini terus berlanjut, bukan hal yang mustahil bahasa taliabu yang menjadi kebanggaan orang-orang taliabu dan merupakan identitas asli kita akan terancam punah dan hilang. Jika hal ini terjadi maka kebanggaan daerah yang kita cintai ini akan ikut hilang.


Dikutip mongabay.com dari hasil wawancara Dahang seorang tetua dari desa Talo, menyebutkan khususnya di desa talo kehidupan masyarakatnya sudah banyak berubah. Di desanya tersebut malah sudah banyak generasi muda mereka yang tidak lagi paham dengan budaya mereka sendiri, bahkan banyak yang tidak lagi menguasai bahasa daerah asli taliabu kecuali hanya sedikit disebabkan pengaruh bahasa Indonesia yang diajarkan sejak kecil lebih intens ketimbang bahasa asli taliabu itu sendiri.

Masalah seperti ini adalah salah satu penyebab dan merupakan contoh nyata bahwa bahasa daerah taliabu telah perlahan-lahan ditinggalkan oleh generasi-generasi penerus orang taliabu. Oleh karenanya jika tidak ditanggapi dengan serius masalah ini akan menjadi lebih serius lagi di masa-masa mendatang.

Oleh sebab itu yang bisa kita lakukan saat ini adalah menjadikan bahasa taliabu sebagai bahasa kecintaan kita, mempelajarinya dan terus berusaha untuk berkomunikasi menggunakan bahasa taliabu terhadap sesama kita. Proses ini adalah hal yang paling mendasar dan penting untuk dipupuk dan dijaga mulai sejak dini, sehingga semuanya menjadi kebiasaan dan bahasa taliabu mengemuka dan menjadi lebih intens digunakan oleh masyarakat orang-orang taliabu seluruhnya.

Selain itu, proses tersebut akan sangat didukung apabila pembelajaran bahasa daerah taliabu telah masuk dalam kurikulum dan diajarkan di sekolah-sekolah yang ada di seluruh pelosok taliabu.

Oleh karena itu perlu adanya perhatian dari Pemda setempat dan Dinas terkait termasuk Guru (tenaga pendidik) di taliabu demi tercapainya cita-cita luhur mempertahankan eksistensi bahasa daerah taliabu. Menjaga dan melestarikannya...