Welcome to www.winkamaru.com

Makna Sebenarnya dari Ucapan 'Minal Aidin Wal Faidzin'


Kala Idul Fitri menyingsing, ramai-ramai kita sebagai umat muslim santer mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin disertai Ucapan Mohon Maaf Lahir dan Batin. Baik ungkapan tersebut disampaikan lisan dan secara langsung maupun melaluis privasi message: SMS, BBM, Messanger, Hingga WhatsApp atau mengunggah status di media sosial.

Tidak tahu mengapa ternyata banyak dari kita yang salah kaprah dalam mengartikan makna Minal Aidin Wal Faidzin, tanpa sadar kita menganggap ucapan tersebut memiliki makna Mohon Maaf Lahir dan Batin padahal ternyata tidak.

Dikutip dari maskakank.wordpress.com, kata "Minal Aidin Wal Faidzin" berawal dari serangkaian kalimat doa yang berbunyi:

“Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faidzin” 

Artinya: “Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (menjadi) para pemenang”. 

Sementara kata "Minal Aidin Wal Faidzin" jika diartikan ke dalam bahasa indonesia adalah: "Semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (menjadi) para pemenang", Sehingganya tidaklah benar memaknai kata tersebut menjadi Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Namun, dengan melengkapi kata "Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin" sebenarnya adalah bentuk salam dimana sang pemberi salam dan yang bersalaman saling mendoakan dan mengulurkan tangan untuk bermaaf-maafan di bulan yang penuh fitrah.

Hal ini senada dengan yang ditulis oleh Ust. Musyafa Ad Darini, Lc., MA dalam muslim.or.id bahwa 'Minal Aidin Wal Faidzin' bisa dimaknai sebagai ungkapan "Selamat berhari raya dan semoga termasuk orang-orang yang mendapatkan kemenangan". Maksud ucapan ini menurut beliau sebenarnya memberikan ucapan selamat hari raya, dan mendoakan semoga orang tersebut termasuk orang yang menang dengan banyak pahala, meraih ampunan dan kemuliaan yang dijanjikan oleh Allh Swt di Bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Selain itu dalam tulisannya di muslim.or.id, Ust. Musyafa Ad Darini, Lc., MA juga menambahkan tidak benar bila 'ucapan selamat' tersebut tidak digunakan orang-orang arab, karena beliau sendiri selama di Madinah pernah mendengar beberapa orang arab mengatakannya, terutama mereka yang berasal dari negeri Syam.

Para ulama juga telah menegaskan, bahwa ucapan selamat untuk datangnya hari raya, tidak ada batasannya, selama maknanya baik maka itu dibolehkan. Karena syariat tidak membatasinya dengan ucapan atau  doa-doa tertentu. (Ust. Musyafa Ad Darini, Lc., MA dalam Muslim.or.id)

Sementara bagi umat muslim yang ingin memasyarakatkan 'ucapan selamat hari raya' yang dipakai oleh para sahabat radhiallohu anhum, maka itu juga merupakan hal yang baik. Yakni dengan ucapan:

"Taggabbalallhu Mina wa Minkum" yang artinya: "semoga Allah menerima amal kebaikan kita semua"

Dengan begitu bukan berarti 'Ucapan Selamat' yang memiliki pesan yang baik-baik menjadi dilarang. Semuanya dibolehkan selama tidak dasar atau dalil yang kuat yang mengharamkan dan melarang 'ucapan selamat' tersebut.

Simpulan
Minal Aidin Wal Faidzin bukanlah bermakna Mohon Maaf Lahir dan Batin, melainkan dua ucapan yang terdiri dari doa dan ucapan selamat serta permintaan maaf dan biasanya dilakukan menjelang hari raya besar islam seperti Idul Fitri.

Selain itu, tidak hanya ucapan Minal Aidin Wal Faidzin yang memiliki arti yang baik sebagai 'ucapan hari raya', kita juga bisa mengikuti ucapan selamat hari raya yang dipakai oleh para sahabat yaitu "Taggabballahu Mina wa Minkum" yang artinya: "Semoga Allah menerima amal kebaikan kita semua".

Saling mendoakan dan bermaaf-maafan di Hari Raya adalah hal yang baik, selama yang dilakukan bukanlah keburukan.