Welcome to www.winkamaru.com

Kepada Yang Merasa Benar


Di dunia yang nyaman, seharusnya kita tidak bertemu orang-orang yang merasa dirinya paling benar di atas segalanya.

Diri kita yang selalu bagus dan tanpa aib itu apakah benar?

Kita ini tidak pernah sadar akan kesalahan yang diperbuat, tetapi selalu saja bahagia ketika mengumbar aib saudara sendiri.

Miris memang tapi kebanyakan dari kita mendapatkan canda dan tawa dari aib yang diceritakan itu.

Pada setiap penjamuan cerita selalu saja ada yang mengisi suasana dengan sikap gagahnya, menceritakan kehebatan dirinya dengan jurus andalan mencari seseorang untuk dijadikan pembanding sebagai yang disalahkan.

Di dunia yang tidak nyaman ini, tidak hanya di kedai kopi maupun di warung makan, tidak hanya orang tua maupun muda-mudi.

Setiap kali sudah dihidangkan topik pembicaraan selalu saja di sana terselip cerita yang membuat mereka tertawa bahagia, padahal yang ditertawakan adalah sebuah lelucon hidup atas kesalahan atau kekhilafan bahkan kemalangan orang lain.

Kita ini selalu begitu, selalu merasa benar tanpa pernah mau berpikir dan sesekali bercerita tentang hal yang baik yang memotivasi.

Tidak pernah…

Malah topik tentang kejelekan dan kesialan orang lain menjadi bahan cerita untuk ditertawakan.

Padahal nasib manusia siapa yang mau mendapatkan kemalangan.

Sudah malang bukan dibantu malah diceritakan kejelekannya untuk menjadi bahan lelucon.

Miris memang dunia ini, bahan lelucon adalah sesuatu yang begitu.

Tidak perlu jauh-jauh bahkan keluarga sedarah pun begitu.

Padahal semua terjadi akibat komunikasi yang gagal, sehingga setiap dari satu sama lain merasa paling benar.

Akhirnya setiap dalam perkumpulan yang sama dengannya mereka akan menceritakan kejelekan masing-masing di belakang orang yang diceritakan.

Melihat ini, sungguh miris.

Apa gunanya menyucikan mulut dengan bacaan ngaji, menyucikan diri dengan ibadah, kalau toh ternyata kebahagiaan dan tertawa yang keluar dari mulut ternyata terselip sebuah kesombongan menceritakan dan menjelekan saudara sendiri.

Rusak telinga kami yang mendengarnya…

Tolong berhentilah, karena diri kita belum tentu lebih baik dari semua kehinaan yang menjadi lelucon itu.

Bobong
dt, 28 Maret 2019