Welcome to www.winkamaru.com

Kasuami, Makanan Tradisional Wakatobi, Juga Dijumpai di Taliabu


Rasanya seperti ingin terbang serta mengarungi samudera dan menjamah gelombang laut. Memacu adrenalin sang pelaut ulung.

Tak peduli sempoyongan atau nantinya malah mabuk. Pelaut ulung tak punya rasa segan terhadap gelombang laut. Maju dan terus maju melawan gelombang demi mencari rejeki untuk keluarga.

Mungkin itu yang selalu ada di benak orang-orang timur Indonesia khususnya masyarakat Wakatobi yang sebagian besar kehidupan mereka adalah beraktivitas di laut, entah sebagai nakhoda kapal, anak buah kapal, nelayan, dan sejenisnya. Umumnya sebagian besarnya adalah Pelaut!

***

Apa hubungannya judul tulisan ini dengan ilustrasi deskriptif di atas?

Teman, sebagaimana yang dikutip dari cendananews.com makanan tradisional Wakatobi (kasuami) ini ternyata juga merupakan salah satu makanan khas para pelaut orang-orang di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Makanan tradisional Wakatobi ini, diperkenalkan para pelaut asal Wakatobi, tidak hanya di wilayah kepulauan Indonesia, tetapi hingga ke pesisir Singapura, pesisir Malaysia, sampai ke Filipina. Dimana kasuami dijadikan sebagai bekal makanan mereka dalam mengarungi lautan.

Selain itu, makanan tradisional yang kabarnya berasal dari Kepulauan Tukang Besi Wakatobi ini dapat juga dijumpai dengan mudah di daerah Kepulauan Taliabu. Tidak hanya itu, bahkan beberapa masyarakat asli di sana telah mengetahui cara pengolahan makanan tradisional (Kasuami) tersebut.

Jika kita melihat kepada sejarah sebagaimana berdasarkan hasil wawancara Helika Mansur kepada Palele atau Paitua Nei yang dipublikasikan pada blog pribadinya helika-taliabu.blogspot.com mengatakan dahulunya orang-orang suku Buton masuk ke Taliabu melalui kapal laut yang dipimpin oleh seorang yang bergelar Kapita Lau.

“Kapal Kapita Lau berjumlah 15 dan sebulan tiga kali datang ke Taliabu. Pernah suatu waktu pada saat malam hari para tawanan perangnya yang dibawa dari buton lepas saat Kapita Lau sedang singgah beristirahat dan tertidur di sebuah tempat yang disebut Salu (saat ini desa Sahu).

Tawanan yang terlepas berjumlah 40 orang perempuan dan 4 orang laki-laki yang pada keesokan harinya melakukan perlawanan dari pengejaran pasukan Kapita Lau di salah satu wilayah, sekarang dikenal dengan Desa Tikong” (Narasumber Paitua Nei, Air Bulan, 21/12/2009) oleh Helika Mansur.

Berdasarkan referensi di atas, kita bisa mengasumsikan bahwa makanan tradisional Kasuami (Wakatobi) masuk ke taliabu dibawa dan diperkenalkan oleh masyarakat Buton. Selain itu, jika hendak melihat kondisi taliabu saat ini, kita bisa memaklumi keadaan yang ada.

Penyebab mudahnya dijumpai (Kasuami) makanan tradisional buton (Wakatobi) tidak hanya dimulai oleh sejarah Taliabu yang memiliki kaitan dengan orang-orang dari suku buton melainkan pengaruh besarnya disebabkan oleh masyarakat buton itu sendiri yang hingga kini telah tinggal dan beranak cucu hingga cicit di Taliabu.

Sehingganya jika kita sedang berjalan-jalan di taliabu terutama di desa-desa yang didominasi masyarakat Buton (Sulawesi Tenggara) maka kita akan menemukan masyarakat di sana sehari-harinya menggunakan Bahasa asal suku mereka. Seperti: Desa Tanjung Una yang mayoritas masyarakatnya berbahasa Muna, Desa Sahu dan Nggele yang mayoritasnya orang-orang berbahasa tomia, hingga orang-orang yang mayoritasnya berbahasa Kaledupa bisa dijumpai di desa Lede.

Poin penting yang menyebabkan mudahnya orang-orang suku buton dapat dengan nyaman tinggal dan menjalankan kehidupan mereka di Taliabu dikarenakan orang taliabu memiliki pola pikir terbuka dan ramah kepada pendatang.

Dikutip dari mongabay.com saat mewawancarai Dahang seorang tetua di desa Talo mengungkapkan, para pendatang bukanlah musuh yang harus diperangi selama datang dengan tujuan damai dan mencari penghidupan baru di tempat mereka.

Sebelum adanya pendatang seperti orang-orang dari Wakatobi atau suku buton. Di masa lalu ungkap Dahang, orang-orang taliabu umumnya hanyalah petani yang tinggal di gunung-gunung, bertani kelapa, jagung, ubi hingga sagu. Lalu belajar juga tentang perikanan laut dan sekarang sudah banyak masyarakat taliabu yang juga menjadi nelayan atau me-laut. Dahang dalam mongabay.com (2017/04/02).

Berdasarkan hal tersebut dapat kita ketahui bahwa kehidupan masyarakat asli taliabu dan masyarakat pendatang termasuk buton (Wakatobi) membangun sebuah hubungan mutualisme yang saling menguntungkan bagi keduanya dan merupakan gambaran kehidupan masyarakat yang harmonis dan romantis.

***

Kembali berbicara mengenai Makanan Tradisional Kasuami. Di Taliabu makanan tradisional Kasuami memiliki nama yang unik, orang-orang taliabu umumnya menyebut makanan tradisional dari Wakatobi ini dengan sebutan “Suami / Soami”.

Nama yang unik tersebut kemudian menjadikan makanan tradisional yang disebut “Suami” ini tidak bisa kesepian dan harus selalu didampingi “Istri”

Jangan kaget! Kata “Istri” adalah diksi untuk mengganti makna lauk seperti ikan dan sayur di mana “Suami” cocoknya dan sangat afdol jika bertemu makanan bakar seperti Ikan Bakar dan Sayur kuah bening seperti sayur daun kelor.

Uhh… menuliskan ini dan membayangkan “Kasuami, Ikan Bakar, Sambal Rica, dan Sayur Daun Kelor” buat perut orang yang menulis ini ikut merasa lapar.

Sayang! Karena hanya di perantauan, semuanya hanya menjadi rindu…