Welcome to www.winkamaru.com

Hidup yang Tak Bisa Tertawa


Hari ini sebenarnya aku ingin memutuskan untuk tersenyum dan bahagia kembali, ketika menerima pesan masuk melalui messangger yang berisi pesan romantis yang cukup membuat hati saya luluh dan merasakan nikmat cinta dan kasih sayang.

Saya ingin kembali dalam kedamaian dimana semua perkara adalah rasa percaya dan memaklumi keadaan masing-masing dan bukan meminta untuk dimaklumi saja tetapi tak mau memaklumi dan percaya bahwa yang dilakukan adalah hal yang selalu positif.

Lagi-lagi keegoisan itu muncul, rasa yang tidak membimbing itu dipaksakan dengan mata dan cara pandang yang selalu negatif. Hingga selalu dan selalu keiblisanku bangkit dan muak akan semua perihal yang tidak ingin kubicarakan.

Saya bukan seorang pakar gombal yang harus membanjiri mulutnya dengan rayuan romantis penuh muslihat. Dimana dari seluruh ungkapan itu adalah bualan dan omong kosong belaka.

Saya tak pernah memilih hidup dalam dusta dan sama sekali belum pernah menjadi pendusta yang kemudian teramat jijik untuk dianggap sebagai manusia. Saya tak pernah harus berbohong untuk menyembunyikan segala persoalan. Menurut saya memang tak ada sama sekali satu pun rahasia hidup yang perlu disembunyikan.

Bahkan hingga kini tak ada sedikit pun rahasia yang disembunyikan...

Dan masihkah begitu sulit untuk memaklumi kehidupan saya dengan percaya dan memberikan dukungan positif?

Apakah saya tak layak mendapatkan simpati yang seperti itu?

Apakah harus selalu memanjakan, memberi kesenangan, sementara batin sendiri yang ingin senyum selalu ditekan kompromi untuk mengikuti kemauan satu pihak saja?

Atau, apakah hidup ini tidak bisa diputuskan sendiri serta harus selalu berada pada ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan egois yang kau buat sendiri? Apakah aku ini robot dan mainan mesin yang sesuka hati ingin kau kontrol dan kendalikan semau-maunya?

Layakah itu?

Jika hanya kebahagiaan yang kau inginkan, maka hidup yang saya jalani tidak akan mampu menjawab seluruh keinginan itu. Sebab takdir sendiri ada ketentuan buruk dan ketentuan baik yang sebagai manusia saya mengimaninya.

Lantas pantas kah semua tuntutan itu? Sementara semua hati memerlukan kebahagiaan!

Jika hidup tak bisa tertawa, maka kebahagiaan telah mati.

Apakah begini niat yang ingin dibangun selama ini?