Welcome to www.winkamaru.com

Harus Tetap Mengambil Keputusan, Meski Menyakiti


Sudah lama ketika saya harus bertahan dan belajar memaklumi semua kemauan yang sebenarnya tidak bisa ditahan, sebab terlalu pelik persoalannya untuk diterjemahkan menjadi mudah.

Mungkin saat ini, saya akan menjadi seorang manusia yang bisa dinilai sebagai seseorang yang tak hidup sebagai manusia. Barangkali benar menurutmu bahwa saya adalah iblis yang memiliki hati yang berlapis ribu empedu. 

Tapi karena tak punya kuasa apa-apa untuk melawan dan tetap pada kesabaran, saya jatuh juga dan kemudian membuat keputusan yang meski menyakiti.

Ini bukan tentang perpisahan dan kebencian apalagi mengenai tak lagi memahami, melainkan ini adalah sebuah perjalanan baru melalui metode dan cara pandang yang berbeda agar memberikan faedah baru, supaya kita bisa sama berpikir dan menghargai sebuah pemberian yang ikhlas.

Semua tak berubah, masih sama seperti mulanya, hanya saja kita kembali pada ketentuan yang sebenarnya. Dimana semua sikap dan karakter yang nantinya dilakoni adalah bentuk asli dari diri sendiri, bukan lagi mengikuti mau siapa-siapa.

Seperti itu sebaiknya fitrah sikap dan lakon yang harus dimainkan...

Sebagaimana hidup, kita jualah yang nantinya bertanggung jawab dalam segala urusannya. Pilihan adalah bentuk dari sebuah keputusan yang kemudian menghadapkan kita kepada seluruh konsekuensi.

Jika pun nantinya menyakiti, keputusan tetap harus ditentukan! Ibarat anak panah yang dilepaskan, ia tak akan lagi kembali sebelum mencapai sasarannya...

Kita terlalu naif untuk berpikir bahwa tidak ada yang salah dalam semua itu!