Welcome to www.winkamaru.com

Cerpen: Aku Memang Munafik


Dengan sedikit jengkel, ia marah dan berkata padaku. “Dasar munafik” Aku tidak begitu mengerti mengapa dia berkata seperti itu, aku hanya tahu kalau dia hanya jengkel. Lalu dibalik kata-kata marah yang dia ucapkan itu ia langsung menamparku, aku makin tidak mengerti mengapa ia menamparku.

 “Mengapa kau menamparku?” tanyaku padanya, “itu adalah tamparan tentang rasa yang belum pernah kau rasakan.”

 Aku makin bingung lagi, apa sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh gadis ini? Aku menerka-nerka, tapi tak satupun makna dari raut wajahnya memberikan arti dari ulahnya waktu itu.

“Aku butuh penjelasan mengapa kau menamparku.” Dia tertunduk diam, lalu pergi meninggalkan aku sendiri.

Kulihat ombak menguncah, memecah keheningan dan tanda tanya dalam kepalaku. Aku sempat bertanya kepada ombak, namun kata-kataku ditelan oleh gemuruh dan amuknya. Dia dan ombak yang kuajak bicara sama saja. Mereka hanya bungkam dan hanya bisa menceramahiku.

Semestinya aku harus berbuat apa? Aku bertanya kepada diriku sendiri, tapi aku tak menemukan jawaban juga.

Karena semua sia-sia, aku kembali pulang ke rumah, dan tidur diwaktu magrib. Ponsel-ku berdering, tapi aku tak mengangkatnya karena aku merasa lelah dan mengantuk saat itu.

Mula-mula aku hendak mengambil Ponsel-ku, aku hendak melihat siapa yang menelponku, tapi mataku menjadi berat, dan tanganku tak mampu menyentuh dan meraih Ponsel-ku. Aku pun tertidur.

Setelah aku bangun, hari sudah sangat larut, kulihat jam dinding kamarku, waktu telah menunjukan pukul 01.00 am Wita. Perutku sangat lapar aku langsung menuju ke dapur mencari makan. Setelah makan aku kembali ke kamar, ibu menegurku.

“Ris… sudah makan belum?” “sudah Bu.” “Tadi sore temanmu datang ke rumah mecarimu, tapi kamu sudah tidur” “siapa Bu” “katanya… namanya Sri!”

“Ibu belum tidur?” tanyaku pada Ibu “Ibu terbangun, karena mendengar suara di dapur, eh ternyata kamu!”

“Maaf Bu sudah…” Belum habis aku berbicara Ibu sudah memotong “sudah sana! Tidur lagi.”

Di kamar, aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat, aku semakin bingung gadis ini semakin membuat aku gila. “Apakah ia tidak puas setelah memarahi dan menamparku siang tadi?” tanyaku dalam hati. Sungguh ia tidak puas sampai-sampai datang ke rumahku dan mencariku. Apa kesalahan yang sudah aku perbuat kepadanya?

Setelah kulihat Ponsel-ku, ada panggilan 12 tidak terjawab, gadis ini sepertinya sangat membenciku. Aku mulai mencoba mengamati keadaanku, dan mencoba mengolah otakku dan berpikir, namun hanya membuat aku sakit kepala. Aku pun melanjutkan tidurku dan berharap semoga ini terakhir kalinya aku diteror seperti ini, olehnya.

***

“Tok... tok...” Pintu kamarku berbunyi berulang-ulang, aku tidak menghiraukan.

“Ris.., Bangun Nak sudah pagi!” “Pagi?” Aku tekejut dan langsung bangun, “mengapa Ibu tidak membangunkan Ris sejak tadi Bu” “Ibu sudah membangunkan kamu sejak tadi, tapi kamu itu malasnya minta ampun.” jawab Ibu.

“Sudah sana mandi, habis itu sarapan, semua sudah menunggu di bawah!”

Aku menghamburkan kesejukan di sekujur tubuhku, seraya berharap agar hari ini adalah hari baru buatku, aku hendak menghapus segala kenangan tempo dulu. Aku mau menjalani hidup baru, seakan-akan hari ini kisah pertamaku.

“Ris..! setelah kelulusan ini, kau mau lanjut ke mana?” kata ayahku. “Ris… Nganggur dulu Pah!” “mengapa tidak mau lanjut?” Ayah bertanya lagi padaku, “aku masih mau menenangkan diri dulu pah!” Ayah dan Ibu menatapku keheranan, “itu bukan alasan Ris!” sapa Ibuku dengan nada yang sayu.

“Ris mau belajar untuk menjadi mandiri dulu, mau mencari kerja!” Ayahku tertawa melihatku berkata seperti itu, “kerja apaan Ris?” Ayah seakan mengejekku. Aku pahami itu. Aku sangat dimanja dari kakak-kakakku.

“Ris... Mau ke Palu ikut teman, mau kerja di bengkel!”

Ayah dan Ibuku terkejut.

“Apa kamu sudah pikirkan Ris?” tanya ibuku, “sudah Bu, Ris sudah pikirkan semuanya!” jawabku dengan penuh keyakinan, sebelumnya Ayah dan Ibuku mencegahku, setelah aku menjelaskan kepada mereka, akhirnya mereka menyetujuinya juga.

Untuk sementara, aku harus menjauh dulu dari gadis ini, gadis yang selalu memarahi dan mengatakan aku munafik.

Setelah kelulusanku di SMA, aku langsung berangkat ke Palu bersama Ridwan, kami bekerja di bengkel Pak Sudowo. BENGKEL ILHAM.

Minggu pertama bekerja di bengkel Pak Sudowo, aku belajar banyak, dari cara membuka dan mengganti ban dalam sepeda motor, sampai pada tahap yang lebih tinggi lagi membongkar mesin sepeda motor, yang dulunya hal ini aku rasa sangat sulit tapi sekarang sudah merupakan mainan buatku.

Enam bulan sudah berlalu, aku mulai melupakan gadis yang sering memarahi dan mengatakan aku munafik itu, nomor HP-ku pun sudah kuganti, yang mengetahuinya hanya Ayah dan Ibuku.

***

“Ris..!” Teriak Ridwan memanggilku, “neh lihat motor baruku!” Ridwan memamerkan sepeda motor, yang baru dibelinya, “Hey Ria..!” Aku tidak menanggapi dengan serius. Aku masih sangat sibuk dengan motor yang aku perbaiki saat itu.

“Serius sekali kau Ris!” Ridwan mendekatiku “huuh.., kalau tidak serius Wan, mungkin aku tidak akan pernah ke sini, kerja di bengkel ini, lagi pula aku mulai suka dengan pekerjaan ini”

“Oh… yah istrahat dulu, biar aku yang ganti”

“Sudahlah Wan, ini tinggal baut terakhir!” kataku pada Ridwan

Sehabis memasang mesin motor Pak Amir, pelanggan setia Pak Sudowo, aku mencoba menghidupkan dan menyetel gasnya, habis itu aku mulai mencobanya berjalan-jalan sedikit dengan sepeda motor Pak Amir. Setelah yakin kalau semua sudah beres. Aku menyuruh Ridwan untuk memasang Body sepeda motor Pak Amir.

Ridwan yang memasang Body-nya, sementara aku makan dan istrahat sejenak. Tidak terasa sebulan lagi aku pulang, janjiku kepada ayah dan ibu, hanya setahun aku di sini, selanjutnya aku akan melanjutkan kuliah.

Aku kembali ke Gorontalo, dengan mengendarai sepeda motorku aku pulang ke kampung halaman, perjalanan yang aku tempuh sehari semalam itu tidak aku rasakan jauhnya. Aku sudah sangat rindu kepada keluargaku di sana.

“Assalamualaikum...”

“Walaikumsalam” Ibuku membukakan pintu untukku.

“Ris... sudah pulang kau Nak?” Ibu terkejut “iya bu” “mengapa tidak memberitahu, menelpon atau sms dulu!” “yang penting, Ris... sudah pulang Bu.”

“Bapak di mana Bu?” “Bapakmu lagi ke Makassar, biasa ada kesibukannya.”

“Oh...” Aku langsung ke kamarku, kulihat tidak ada yang berubah sama sekali, aku seakan kembali kemasa laluku. Bayangan gadis itu mulai mengingatkanku lagi.

Tiba-tiba kepalaku sakit dan aku tidak sadarkan diri. Ibu yang mendengar suara di kamarku, langsung datang menengokku, ibu melihatku tergeletak di lantai dan tidak sadarkan diri.

“Ris…?” Ibu menangis dan mencoba menyadarkanku.

Setelah aku sadar aku sudah berada di ranjangku, sementara di luar aku mendengar pembicaraan dokter Syarif dan Ibu.

“Bagaimana keadaan anak saya Dokter?” “anak ibu tidak apa-apa, dia hanya kecapekan, jadi jangan khawatir nak Ris akan baik-baik saja” “terima kasih dokter” “sama-sama bu, saya permisi dulu.” Ucap dokter Syarif.

***

Perguruan tinggi di Gorontalo pun telah membuka penerimaan mahasiswa baru, aku mendaftar dan lulus dengan pilihan Jurusan (S1) Sistem Informasi dan Komunikasi pada Fakultas Teknik di Universitas Negeri Gorontalo.

Hari-hariku dipenuhi dengan tanda tanya, setelah sekian lama aku tidak bertemu dengannya, gadis aneh yang selalu memarahi dan mengatakan aku munafik itu. Aku bertemu dengannya, tapi kali ini ia tidak memarahiku. Ia menatapku dan menangis, selanjutnya ia memelukku. “mengapa kau menangis? Apa yang terjadi, mengapa kau tidak memarahi dan mengatakan aku munafik lagi?” Ia hanya diam.

Ia memelukku dengan begitu mesra, tangisnya yang begitu dalam mengantarkan aku ke dunia antah berantah, batinku ikut menangis. Tubuhku bergetar, menggigil seperti orang kedinginan.

“Mengapa kau pergi lama sekali?” Ia bertanya kepadaku.

“Apa maksud kamu, aku tidak mengerti.”

“Kamu masih saja bersikap munafik Ris!” Aku terkejut mendengar ia berkata seperti itu lagi, ia melepaskan pelukannya.

Kulihat ia masih menangis, tiba-tiba ia menamparku dan memelukku lagi, isak tangisnya masih saja ada.

“Ada apa sebenarnya dengan kamu, Sri?” tanyaku padanya, tapi setiap kata yang aku katakan tak pernah dijawabnya. Gadis ini memang aneh.

Aku melepas pelukannya, kali ini aku cukup kesal dengan ulahnya. Kulihat ia tertunduk dan kali ini ia menangis dengan sangat sedih. Aku tidak tega melihatnya menangis. Aku mendekatinya dan berkata perlahan. “Maaf Sri! Aku hanya bingung?”

“Kamu munafik Ris!”

“Apa maksud kamu, Sri?”

“Kalau kamu mencintaiku, tentu kau tidak akan pergi meninggalkan aku!” Aku terkejut mendengar perkataan itu. Kembali aku teringat akan pertemuan kami di Pantai. Saat itu ia menamparku dan sejak saat itu ia mengatakan aku munafik, aku tidak berani mengatakan cinta kepadanya, hingga detik-detik kelulusan aku baru berani mengatakannya.

“Aku memang munafik, Sri! Tapi yang kutahu, aku hanya mencintai kamu!”

Kubuka kedua tanganku isyarat meminta pelukannya, tanpa banyak kata Ia langsung memelukku. Air mata dan hujan menjadi satu, aku tidak perduli kali ini semua telah jelas.

“Ris... Hujan!”

Aku terus memeluknya, “Biarkan saja.” Sepertinya bukan aku saja yang munafik bumi pun menangis.
Cerpen: Aku Memang Munafik
Tulisan lama ditemukan juga! Tulisan Pertama saat Belajar Menulis Cerpen di Tahun 2012