Welcome to www.winkamaru.com

Taliabu: Haruskah Pengkritik adalah Seorang Kritikus?


Menanggapi sebuah tulisan yang dibagikan oleh Hermawan Mangawai pada 17 November 2017 kemarin mengenai Kritikus atau Tukang Kritik! Sebelum membaca tulisan ini saya menyarankan untuk membaca tulisan yang dibagikan Hermawan Mangawai yang di-post-kan kembali oleh Nizamudin Anwar Umar Nigher di Grup Taliabu Community pada link 'baca di sini' agar nantinya tidak terjadi kesalahpahaman dalam membaca tanggapan saya melalui tulisan ini.

Screenshot yang postingan yang dibagikan Bung Hermawan

Tulisan asli yang Hermawan Mangawai Bagikan Waktu itu, dapat sobat baca di blog DAS VENCHES yang pada akhir tulisan diberi keterangan ditulis di Jambi, 14 Januari 2009. "BACA DI SINI" tulisan tersebut ditulis oleh DAS VENCHES

Screenshot tulisan asli oleh DAS VENCHES

Baiklah saya akan anggap teman-teman sudah membacanya sebelum melanjutkan ke ulasan saya menanggapi tulisan tersebut. Sebelumnya saya mohon maaf apabila ulasan ini menyinggung pihak lain dan bila saya keliru mohon untuk diluruskan bagi teman-teman yang memiliki pemahaman lebih.

Pada tulisan tersebut ada bahasan yang menyentil persoalan kritikus dan tukang kritik menjadi persoalan yang perlu diamati dengan teliti terutama perlu diperhatikan oleh para tukang kritik. Menurutnya!

Saya sependapat bilamana tujuan kritik adalah seharusnya baik sebab kritik tidak seharusnya diisi oleh ujaran kebencian atau kepentingan sepihak saja. Melainkan wujud protes atas sesuatu hal yang salah agar orang yang bertanggung jawab dapat memperhatikan kesalahan apa yang terjadi.

Screenshot Postingan yang dibagikan Bung Nigher

Tetapi ada sesuatu yang menjadi pertimbangan saya ketika di akhir tulisan ada pernyataan sebagai berikut: “semoga kritik lebih berkembang di masa yang akan datang oleh kritikus yang arif dan ikhlas untuk kepentingan masyarakat luas, bangsa dan Negara juga sebaliknya. 'Tukang Kritik' tobat dan berbenah diri menjadi Kritikus”

Saya lebih menitik beratkan pada bahasa terakhir yang mengatakan “Tukang Kritik” tobat dan berbenah diri menjadi kritikus”

Apakah menjadi pengkritik itu dengan harus menjadi kritikus? Andai seperti ini maka akan terjadi yang namanya kekuasaan menindas kaum lemah. Alasannya adalah kritik tidak hanya muncul berdasarkan ilmu pengetahuan atau keahlian saja. Kritik muncul dikarenakan olah rasa dan olah akal yang melatarbelakanginya. Andai masyarakat sebagai subjek yang mengkritisi pemerintah, menyampaikan protes atas permasalahan yang mereka hadapi dengan harus menjadi kritikus maka ini menjadi persoalan pelik. Bagaimana bisa masyarakat harus memiliki keahlian dulu?

Selain itu keahlian seperti apa yang harus mereka miliki? Apakah mereka harus mengerti lebih dulu apa itu hukum? Apa itu pemerintahan? Apa itu politik? Pemahaman saya ini akan menyiksa mereka. Sebab mereka hanya menyampaikan protes mengenai problem yang mereka hadapi agar permasalahan yang mereka alami diperhatikan oleh orang yang berwenang dan segera di atasi. Cukuplah bagi mereka bisa berbicara dan pandai merasa itu saja barangkali.

Andai mengkritik harus menjadi kritikus maka akan bungkam negeri ini dengan aksi dan orasi mahasiswa atau relawan-relawan yang berjuang menyampaikan aspirasi mereka maupun aspirasi rakyat yang ikut mereka bawa. Bilamana persoalannya adalah persoalan rakyat. Sebab bisa jadi mereka yang masih mahasiswa belum menyelesaikan studinya, selain itu mereka bukanlah seorang kritikus. Tapi saya hanya yakin bahwa mereka adalah pemuda yang punya rasa, punya pemikiran, mereka juga tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Maka turun kejalan menyampaikan apa yang mereka pikir benar, mengkritik bagaimana rakyat sedang tertindas, menyampaikan aspirasi untuk menyampaikan kritik kepada pemerintah yang hingga saat ini misalnya belum mampu memberikan layanan yang bagus bagi pendidikan di daerah. Misalnya di taliabu yang saat ini sedang mengalami kekurangan guru di banyak sekolah. Mengkritik adalah menyampaikan pendapat akan sesuatu problem yang mereka lihat melanda daerah. Olah rasa dan olah pikir itulah yang melahirkan aksi dan protes oleh mereka yang merasa. Andai kritik itu tidak ada maka akan sangat miris.

Sekarang mengenai kritikus H.B Jassin! Siapa H.B Jassin ini? Orang mengenal H.B Jassin karena keahlian beliau dalam persoalan kritik sastra. Sejarah mencatat H.B Jassin menumpahkan perhatiannya mendorong kemajuan sastra dan budaya di Indonesia, berkat ketekunan, ketelitian dan ketelatenannya beliau dikenal sebagai kritisi sastra terkemuka. Seorang sastrawan tidak akan dibilang sastrawan bilamana karya mereka belum dikritisi oleh beliau.

Hal ini senada dengan yang disampaikan Gajus Siagian yang menjulukinya “Paus Sastra Indonesia” yakni seseorang pada masa itu akan dianggap sastrawan yang sah bilamana H.B Jassin sudah mem-babtis-nya” artinya adalah telah meng-kritisi karya mereka.

Sehingga jelaslah mengapa sastrawan waktu itu sangat tergiur bilamana karya mereka dikritisi oleh H.B Jassin, ini dikarenakan. Karya sastra yang telah dikritisi oleh Beliau akan menjadi sangat terkenal dan mudah dinikmati oleh penikmat sastra. Hal ini dikarenakan kritik sastra itu sendiri adalah salah satu cabang ilmu sastra yang sifatnya melakukan analisis, penafsiran, dan penilaian terhadap teks sastra sebagai sebuah karya seni.

H.B Jassin adalah seorang kritikus sastra yang menganalisis, menafsirkan, dan menilai sebuah teks sastra sebagai sebuah karya seni. Dan sudah barang tentu menilai karya sastra adalah proses yang sulit apabila tidak diimbangi oleh ilmu pengetahuan! dalam hal ini ilmu sastra tentunya. Karena yang dikritisi adalah sebuah karya seni.

Bukan persoalan seperti yang terjadi dalam lingkup pemerintahan atau persoalan-persoalan yang kemudian disamakan dengan kritik yang terjadi antara masyarakat atau rakyat dengan pemimpin atau pemerintahnya. Di sana kita bisa melihat antara mengkritik pemerintah atau mengkritik orang dan kritik sastra pada hakikatnya memiliki konteks yang berbeda.

Oleh karenanya tukang kritik, pengkritik, atau kritikus sekalipun yang dimaksudkan memiliki hak yang sama dalam menyampaikan aspirasi mereka. Sebagaimana semua itu kita tahu telah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28E ayat 3 yang berbunyi "Kemerdekaan berserikat dan berkumpul mengeluarkan pikiran dengan lisan atau pun tulisan dan sebagainya ditetapkan dalam undang-undang." Sehingganya menyampaikan kritik dan pendapat itu bukan merupakan sebuah pelanggaran, hanya saja perlu adanya yang disebut dengan tanggung jawab.

Yakni menyampaikan kritik berdasarkan fakta dan bukan dikarenakan asumsi pribadi yang menjurus pada fitnah dan penyampaian informasi tanpa ada kejelasan fakta.

Untuk taliabu sebaiknya tidak takut terhadap kritik, karena dari kritik maka pemerintah daerah akan melihat apa saja yang kurang dan dikeluhkan oleh masyarakatnya, apa saja yang perlu diperbaiki atau perlu diperhatikan. Jadi selama kritik itu sifatnya untuk membangun dan tidak menjelek-jelekkan pihak lain, atau bahkan mengandung unsur fitnah. Kritik tetap diperlukan untuk mengontrol jalannya roda pemerintahan. Ini menurut hemat saya!

Kalau yang dinamakan kritik itu adalah berceloteh omong kosong tanpa makna, tanpa kejelasan konsep, tanpa maksud dan tujuan atau hanya sekadar menyampaikan emosional sehingga lupa konteks yang harus dibicarakan. Maka berbicara hanya untuk ngasal/asal-asalan atau men-justices seseorang misalnya! Maka, itu bukan lagi disebut kritik melainkan emosional pribadi yang biasa muncul untuk orang-orang yang digolongkan dalam kaum Haters! karena membenci sesuatu tanpa alasan yang jelas.

Klaim: ...
Tulisan ini dibuat hanya untuk menyampaikan pendapat penulis dalam menanggapi tulisan yang dimaksudkan di atas. Menerima pembahasan dalam ulasan ini menjadi tanggung jawab masing-masing. Tetapi memberikan saran dan menyampaikan pendapat lain mengenai bahasan ini! silakan berkomentar dan bisa jadi kita berdiskusi ringan dalam blog ini!