Welcome to www.winkamaru.com

Cerpen: SUARA


Suara itu masih menggelegar, seperti gemuruh yang mengguncah langit, ibarat drum kosong yang digulingkan ke tempat yang rendah dan saling menindih. Pastinya, aku sudah tidak tahan dengan semua itu.

Di belakangku dengan jarak puluhan kilo, lima hari lima malam, berkendara Bentor, Kapal, Mobil. Sejauh itu. Pun suara itu masih sampai di telingaku.

Teknologi telah berkembang, jarak bukan masalah.

Ini bukan sebuah perkara pelik, tapi perkara sederhana yang sulit diselesaikan, pernah aku coba menyelesaikan masalah ini dengan metode sederhana.

Menyelesaikan masalah tanpa solusi.

Setelah awan mengepul tebal, dan setelah telingaku menjadi tebal. Suara itu masih saja sama risihnya, mungkin dengan adanya perubahan waktu, suara itu makin hebat. Sehingga telingaku yang semakin hebat, masih merasakan hal yang sama, meski sejak dulunya telingaku sudah terlatih.

Dan...! Masalah, masihlah masalah. Penyelesaian tanpa solusi, sama dengan tidak menyelesaikan masalah.

Di sekelilingku juga selalu hadir suara itu, suara yang tidak pernah mau mengerti dengan yang telah aku alami.

Apa yang terjadi?

Suasana makin begitu menegangkan, sempat aku membayangkan akan datang sekelompok iblis pemenggal kepala dengan gerombolannya, melumatku! Atau akan datang para gladiator Roma, memorak-porandakan tulang-tulangku, menjadikan aku seperti daging giling yang halus.

Suasana makin begitu menegangkan, sempat aku berharap datang malaikat penolong melindungiku dari serangan sekolompok iblis pemenggal kepala, atau akan datang Wiro Sableng, Jaka Tingkir, Kian Santang, dan Gajah Mada. Menolongku, dari kejahatan galdiator-gladiator Roma.

Suasana makin begitu menegangkan, ketika aku tahu bahwa aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi lagi, ketika semua yang telah aku bayangkan dan yang aku harapkan adalah sesuatu yang tidak terjadi dan tidak akan.

Ketika semuanya menjadi aneh, aku mencoba mencari sesuatu yang bisa aku jelaskan. Biar masalah sederhana yang sulit dipecahkan ini terselesaikan.

Sempat aku berpikir untuk segera bertemu dengan Thomas Matulesi, aku yakin dia bisa saja membebaskan aku dari masalah yang tadinya kuanggap tidak begitu pelik, nyatanya, benar-benar pelik. Dia pasti akan membantuku. Thomas Matulesi adalah Patih yang murah hatinya, aku yakin Thomas Matulesi seperti itu.

Setelah aku memutusakan mencari dan bertemu Thomas Matulesi.

Aku diam.

Bukan karena terjadi sesuatu yang aneh, tapi apakah aku harus mengarungi Akhirat? Bukannya Thomas Matulesi telah wafat? Ahh..., aku jadi galau dengan segala masalah yang risih ini.

Setelah aku memutuskan untuk berpikir selanjutnya, suara itu datang lagi dan makin mengeras di telingaku, setiap detik menjadi harapan untuk aku menemukan sesuatu yang bisa menenangkan aku. Tapi rasa tenang tidak pernah bisa aku dapat, sebab bagaimana bisa tenang selama aku masih hidup. Bagaimana? Apakah tidak rasional pernyataan itu.

Kalau tidak! Biarlah, biar semua akan terjawab dengan pengalamanmu sendiri.

***

Hari telah menjadi misteri. Hari ini, hari berikut, dan hari kemarin, belum ada satu pun solusi untuk menjawab permasalahan sederhana yang sulit dipecahkan ini.

Suara itu telah memulainya, suara itu telah mengelabui aku, suara itu telah meresahkanku. Suara itu telah menyiksaku dengan nada-nada yang tidak bisa aku nikmati nyaman.

Suara itu masih menggelegar, seperti gemuruh yang mengguncah langit, ibarat drum kosong yang digulingkan ke tempat yang rendah dan saling menindih. Pastinya, aku sudah tidak tahan dengan semua itu.

Di depanku dengan jarak yang tidak pernah aku tahu, suara itu berteriak-teriak memaksaku untuk memecahkan sandi-sandi rahasia.

Ribuan pertanyaan mengeroyokku.

Suara itu masih saja risih dengan masalah yang juga risih.

Aku ingin semuanya selesai, aku sudah tidak tahan dengan semuanya. Suara itu adalah masalah sederhana ini. Masalah sederhana yang tidak mudah diselesaikan.

Suara itu, telah menjeratku ke dalam hal-hal wajar yang aneh. Hal-hal tidak aneh, sebab wajar. Suara itu benar-benar menghukumku.

Di belakangku dengan jarak puluhan kilo, lima hari lima malam, berkendara Bentor, Kapal, Mobil. Sejauh itu. Pun suara itu masih sampai di telingaku.

Di depanku dengan jarak yang tidak pernah aku tahu, suara itu adalah misteri yang harus aku pecahkan. Suara itu adalah masalah sederhana ini.

Bagaimanapun caranya aku tetap menggunakan metode sederhana untuk menemukan cara itu.

***

Aku tahu apa itu masalah, aku tahu apa itu solusi. Aku tahu!

Tapi jujur, aku tidak tahu bagaimana metode mudah, untuk menemukan solusi. Suara itu terlalu hebat untuk menjadi masalah. Terlalu sulit untuk depecahkan.

Meski aku tidak tahan dengan suara yang jauh dibelakangku, dan penasaran dengan suara yang berada di depanku dengan jaraknya yang tidak pernah aku tahu.

Aku masih risih dengan semua ini. Suara itu, masalah sederhana ini.

Kalau aku berhenti, maka masalah ini tidak akan pernah selesai. Kalau aku mati, suara di depanku masih menjadi misteri. Aku belum siap.

Jika ada yang ingin membantuku menyelesaikan masalah sederhana yang sulit diselesaikan ini. Aku tidak mengajak, aku tidak menganjurkan. Tapi kalau mau terlibat. Aku tidak bisa memaksa. Tapi saran! Lebih baik jangan!

Aku bukan menutup diri, aku tidak mau kalian mengalami hal ini. Suara itu begitu risih, hanya akan menjadi masalah yang sulit kamu pecahkan. Aku sudah mengalaminya.

Apa kamu benar-benar ingin merasakan juga?

Jangan! Sekali lagi aku terus menyarankan.

Di belakangku tidak pernah berhenti berceloteh, Di depanku suara misterius itu.

Apa kamu masih siap melanjutkan perjuanganku, menyelesaikan masalah ini, kamu tidak tahu bagaimana suara itu, bagaimana risih suara itu. Bagaimana ketika suara itu benar-benar telah menjadikan kamu seperti aku.

Sebelum kamu mau memulai mengikutiku, aku masih punya saran! Benar, aku seharusnya tidak memaksamu. Tapi jika kamu sudah nekat, apalagi yang harus aku lakukan? Aku masih punya pesan, mungkin pertanyaan!

“Apakah kamu yakin mengejarku yang di depan sana! Yang telah lebih dulu, mengalami masalah ini?” Suara itu begitu risih!

CERPEN: CATATAN.WINKAMARU.COM