Welcome to www.winkamaru.com

Cerpen: IRI


Setelah langkahku menempuh ribuan kilo, Aku berhenti di sini. Suasana nampak sunyi. Terdengar sahut burung berkicau ria. Mungkin mereka sedang bercerita tentang aku. Tapi apalah itu, aku tidak tahu. Aku tak memahami bahasa mereka, kalau aku adalah titisan Sulaiman itu bisa jadi mungkin.

Suara siul kicau burung-burung gereja itu, sebenarnya membuat aku iri. Bagaimana tidak! Kesepian menjajalku dan mereka bernyanyi seakan mengejekku.

Di depanku ada seorang pemuda yang sudah tidak muda lagi, laki-laki itu duduk di atas sebuah sepeda motor berwarna hitam. Tentu, itu sepeda motor miliknya. Dia bercakap-cakap dengan seorang perempuan yang sebaya dengannya, perempuan itu memakai jilbab orange. Ia duduk tepat di depan laki-laki itu di atas tangga pintu masuk gedung Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo. Di pahanya, nampak ia memangku sebuah tas kecil berwarna hitam yang mungkin terbuat dari kulit buaya. Mengenai apa yang mereka bicarakan, aku tidak tahu. Sebab aku tidak menguping percakapan mereka.

Tapi tidak lama setelah, aku ingin mencari tahu. Apa yang mereka bicarakan. Mereka pun berpisah, bermula dari laki-laki itu. Ia pergi menggunakan sepeda motor hitam yang dikendarainya.

Aku harus berbuat apa?

Yah, aku diam saja, lagipula apa urusanku dengan mereka?

Sepertinya aku hanya harus diam saja di sini. Apalagi kalau bukan bercerita dengan kamu?

Yah, hanya kamu sekarang yang bisa menemaniku saat ini. Meski agak aneh tapi ini wajar, cukup membuat aku merasa terhibur, apalagi, jika anda menemaniku sampai akhir ceritaku.

Di ujung sana, di belakang gedung serba guna. Samping kiri gedung Pascasarjana UNG. Aku mendengar kicauan muda-mudi. Sahutan mereka adalah canda ria. Itu yang aku dengar.

Sama seperti kicauan burung-burung gereja, aku tidak tahu apa yang mereka percakapkan, hingga suara kicauan mereka itu terdengar samar-samar di telingaku. Sekali lagi aku iri terhadap mereka, sebab mereka seakan mengejek kesendirianku. Sekali lagi aku ulangi, aku dibuat iri dengan ulah mereka.

Aku juga ingin bertanya kepadamu! Apakah kamu tidak iri dengan ulah orang-orang di atas? Termaksud burung-burung gereja itu, laki-laki dan perempuan yang bercakap-cakap itu, dan kicau muda-mudi itu? Ketika kamu di situ hanya berteman dengan aku, yang saat ini sedang mengajak kamu bercerita?

Oh…, aku tahu kamu tidak sepertiku sekarang, sebab kamu tidak mau disamakan denganku. Aku sangat tahu itu. Tapi sebelum lanjut, ketika tebakanku itu benar. Sebenarnya aku iri juga terhadapmu, selain kamu tidak sepertiku, dan meski kamu tidak memiliki teman, aku tahu bahwa kamu tidak merasa kesepian seperti aku. Karena kamu sekarang merasa memiliki teman. Itupun kalau kamu merasa demikian. Tapi kalaupun tidak, aku tetap iri terhadapmu, sebab kamu hanya bisa mendengar ceritaku, dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu ceritakan. Apa yang kamu bicarakan.

Sampai di situ! Aku sangat yakin, bahwa telah terjadi pergulatan di dalam dirimu.

Kamu saat ini bisa saja mengejekku, atau bisa saja telah mencaciku. Tapi aku tahu, sebenarnya kamu bukanlah orang jahat, meski saat ini kamu bisa saja mengatakan “Masbulo,” padaku.

“Masalah buat loe!”

Dan saat kamu telah benar-benar mengatakan itu, aku di sini kembali duduk diam. Lalu memikirkan apa yang selanjutnya terjadi.

Aku yang tidak tahu malu ini, hanya bisa apa? Hanya bisa bercerita tanpa satu pun ujaran dan ucapan yang aku dengar darimu.

Sekali lagi, aku iri terhadapmu!

Kamu tahu mengapa aku iri kepadamu?

Karena aku tidak bisa mengejek, mencacimu, dan mengatakan “Masbulo,” padamu.

“Masalah buat loe!”

Aku iri terhadapmu, karena kamu sekarang benar-benar mendengar ceritaku. Itupun jika kamu sampai pada tahap ini. Jikalau iya, aku masih iri terhadapmu. Karena kamu masih sabar menemaniku bercerita.

Aku sebenarnya ingin memuji dan berterima kasih kepadamu, yang sudah mau menemani aku bercerita.

Aku iri kepadamu!

Sebab dari tadi aku bercerita, kamu mengerutkan kening, garuk-garuk kepala, pikiranmu mondar-mandir, dan kegelisahan yang kamu lakukan saat ini tidak bisa aku amati secara langsung. Sementara kamu yang membaca ceritaku! Aku tahu kamu telah tahu bagaimana aku sekarang.

Jika kamu di posisiku, apakah kamu iri denganku?

Kalau pun iya! Aku rasa kamu hanya berpura-pura. Karena kamu hanya ingin menghiburku dan membuat aku nyaman.

Kamu adalah teman bercerita yang baik, kamu mau mendengar semua keluh-kesahku.

Aku iri kepadamu.

Tapi suatu saat, aku berharap bisa menghiburmu. Meski aku tahu, bahwa aku tidak akan tahu atau tidak akan pernah tahu dengan siapa sekarang aku bercerita, tapi kamu tahu siapa aku.

Aku iri terhadap semua itu.

Aku iri karena aku tidak bisa menjadikan kamu sepertiku. Aku hanya bisa buat kamu melototiku, dan bisa jadi untuk yang kedua kalinya, mengejekku.

“Masalah buat loe!”

Meski mungkin saja, kamu sebenarnya telah mengejekku dari awal. Tapi meski seperti itu. Walaupun aku sudah bicara panjang lebar begini. Kamu mungkin saja telah bertanya-tanya, apa sebenarnya yang aku ceritakan sejak tadi?

Aku iri terhadapmu, sebab kamu dengan bebas bisa saja bertanya sesuka hati. Padahal pertanyaan itu sebenarnya sebentar kamu pasti akan tahu dan paham dengan ceritaku.

Sementara aku tidak bisa bertanya kepadamu dan mendapati jawabanmu, kamu pasti sangat memahami itu.

Kamu mendengar ceritaku, dan aku tidak tahu apakah kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan? Aku yakin kamu tidak bisa menjawabnya, karena aku tidak tahu apa jawabanmu.

***

Aku tidak melihat kamu, kamu tidak melihatku. Aku iri terhadapmu, karena kamu bebas mengeluarkan semua emosimu: malas, jengkel, marah, dan bosan, sementar aku? Paling tidak, aku tidak bisa sepertimu saat ini.

Aku harus marah, bosan, dan jengkel pada siapa? Kamu tahu sendiri kalau aku di sini sendiri.

Aku iri terhadapmu!

Sampai di sini, apabila tadi telah terjadi kesalahpahaman dan hubungan yang tidak enak antara kamu dan aku. Aku minta maaf. Sebab bisa saja aku telah tidak sopan, dengan melanggar maksim percakapan. Kurangajar terhadap orangtua, umumnya terhadap kamu.

Tapi sebenarnya kalau kamu tahu, aku hanya mencoba membalas jasamu. Ketika kamu mau dan akhirnya menemani aku bercerita.

Lanjut lagi, apakah kamu memaafkan aku?

Baiklah, aku bisa mengerti.

Paling tidak, kamu telah belajar satu hal, dan aku telah belajar satu hal. Selama kamu menemaniku bercerita. Aku tahu bahwa kamu telah iri terhadapku. Dan aku cukup berterima kasih, karena kamu sudah mau menjawab pertanyaanku.

“Apakah kamu memaafkan aku?”

CERPEN: CATATAN.WINKAMARU.COM