Welcome to www.winkamaru.com

Cerpen: Di Bawah Sadar


Matahari seperti tersangkut, tidak bergerak mundur dan maju. Anehnya lagi pertama kali aku membuka mata, pandanganku terarah pada ribuan pohon-pohon besar yang rindang serta rumput-rumput yang menghijau, tumbuh indah di atas tanah merah yang masih basah, mungkin karena hujan. Aku duduk di atas sebuah batu, kemudian memandangi semesta hari itu dengan ribuan tanda tanya, tapi aku ikut sejuk bersama asrinya lingkungan sekitarku saat itu.

Di depanku berdiri dan tumbuh dua pohon besar yang terlihat seperti gerbang, lalu sebelum aku mengamati dengan jelas, matahari tiba-tiba menyilaukan mataku dengan bias cahayanya yang khas. Seperti sebuah pantulan dari cermin yang datar menyapa mata. Aku tidak bisa mengamati dengan jelas, tetapi dalam keburaman itu, aku seakan melihat sosok seorang manusia bertubuh tinggi dan ideal berdiri di antara kedua pohon besar itu.

Ia mungkin keluar di antara kedua pohon yang terlihat seperti gerbang itu.

Kemudian setelah matahari berhenti menyilaukan mataku, dan sebelum itu aku mendengar kalau napasnya terengah-engah. Seperti seorang yang tergopoh-gopoh, mungkin ia kecapekan dikejar sesuatu. Kali ini aku mengamatinya dengan jelas, awan telah mendung. Pemuda itu memakai baju putih, kaos itu tampak khas dengan ornamen bercak-bercak tinta tercerai, pola sablon membentuk sketsa wajah orang yang tidak aku kenal. Di tangan kanannya ia memegang sebuah ranting kecil. Saat ia menatapku ranting itu ia lepas pelan-pelan dari tangannya. Aku terus mengamatinya sampai ke bawah. Ia mengenakan celana pendek berwarna cokelat yang memiliki banyak kantung celana. Kantung-kantung itu memenuhi seluruh celana cokelat itu. Sepatunya seperti sepatu yang biasa digunakan oleh mahasiswa pencinta alam, MAPALA.

Ia kemudian mendekatiku, langkahnya seakan malu-malu. Aku melihat keanehan saat itu. Ia menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Semua itu aneh, aku tidak memahami apa yang terjadi.

Apa sebenarnya yang sedang ia lakukan?

Ia juga mengeluarkan bunyi-bunyi aneh dari rongga mulutnya layaknya seperti orang berbicara pada umumnya. Saat itu aku sadar kalau ia sedang berusaha berkomunikasi denganku. Tapi bahasa verbal dan nonverbal yang ia isyaratkan sedikit pun tidak aku pahami.

Apakah cara berkomunikasi di tempat aneh ini, seperti ini? Pertanyaan-pertanyaanku muncul dalam kebingunganku.

Perasaan takut mulai merasuki aliran darahku, yang dengan begitu cepatnya membuat seluruh badanku bergetar gemetar. Aku lalu mengangkat kedua tanganku memberikan sebuah isyarat, kalau aku tidak akan melawan. Saat hal itu aku lakukan, ia kemudian berubah sikap.

Apa yang sedang ia lakukan sekarang?

Ia mondar-mandir ke kiri dan ke kanan di depanku. Tangan kirinya didekap pada dadanya, siku tangan kanannya menindih tangan kirinya. Dan jemari tangan kanannya ia gunakan untuk mengelus-elus dagunya yang tidak berjenggot. Sepintas pikiranku melayang. Mungkin ia sedang mencari ide untuk berkomunikasi denganku, atau ia sedang memikirkan cara terjahat yang tidak pernah sedikit pun terbayang dalam pikiranku, aku menjadi ketakutan.

Saat aliran darahku begitu cepatnya mengalir, aku mendengar seisi semesta saat itu memainkan beduk yang bunyinya sangat aku pahami.

“Dag dig dug.”

Tidak salah lagi jantungku bekerja keras dan spontan saat itu. Napasku ikut terengah-engah. Ia melirikku dengan ekor matanya yang cukup membuat darahku melompat-lompat. Aku sangat takut. Ia lalu mengarah padaku lebih dekat lagi. Ia juga mengeluarkan desahan napasnya yang tidak karuan, sambil mengikuti aku terengah-engah, ia lalu duduk di depanku dan aku ikut mundur memberikan ia tempat. Kali ini ia melakukan hal aneh lagi, ketika keanehan itu terjadi aku jadi tahu kalau setiap gerakan yang aku lakukan, setiap gerakan yang aku buat, ia menirunya.

Apakah cara bergaul di tempat aneh ini, seperti ini? Pertanyaan-pertanyaanku muncul dalam kebingunganku.

Aku kemudian angkat bicara.

“Siapa kamu?”

Dia hanya memandangiku, lalu mulutnya seperti mengeja apa yang baru saja aku katakan, tapi ia mengeluarkan suara yang aneh, bunyi yang tidak aku mengerti. Meski tidak membuat telingaku berdengung tapi cukup membuat aku terganggu.

Aku lalu memutuskan diam. Diam untuk waktu yang cukup lama. Lalu sudah menjadi kepastian ia mengikutiku lagi. Saat aku berbaring di atas batu yang aku duduki itu. Ia ikut berbaring bersamaku.

Matahari seperti tersangkut tidak bergerak mundur atau maju. Awan begitu tebal, tapi saat pandanganku mengarah pada ribuan pohon-pohon rindang yang besar dan rumput yang menghijau di sekitarku. Hutan ini begitu cerah. Meski aku tahu bahwa matahari sedang diam saat ini, awan sedang mendung saat ini, aku bingung saat ini. Saat ini, untuk waktu yang cukup lama semuanya menjadi bisu.

***

Saat waktu berlalu, aku berusaha untuk memejamkan mataku. Seketika aku tertidur seketika itu pun aku terbangun. Tapi ketika aku terbangun suasana menjadi sangat begitu berbeda. Di depanku tidak ada warna yang semestinya menjadi sebuah objek pandangan, seperti yang biasanya.

Dunia terasa begitu luas, aku tidak merasa ada yang membatasi sekelilingku. Saat aku ingin melangkah maju, aku takut kalau aku akan jatuh, atau aku akan melayang.

Apakah aku sekarang berada di ruang hampa? Dunia antah-berantah?

Aku diam untuk waktu yang cukup lama. Dan lebih memilih berdiri diam memandangi sekelilingku.

Tiap kali, wajahku berkerut, kernyit kening bertanya-tanya. Tanganku berusaha mengelus mataku yang penasaran dengan kejadian saat itu. Aku berharap bahwa aku tidak mimpi. Kemudian, aku mengingat seseorang yang aku temui tadi siang, Apakah dia yang membawaku ke tempat ini?

Kalau iya, di mana dia sekarang?

Mengapa aku dibiarkan sendiri?

Apakah aku baru melewati dunia aneh yang baru lagi? Setelah tadi siang bersama dia di sebuah hutan yang tidak aku kenal.

Apa yang terjadi denganku?

Pertanyaanku tidak terjawab, karena di tempat itu hanya ada aku seorang.

Saat ribuan pertanyaan mulai menyundul dan membentur dinding-dinding otakku berulang-ulang. Sesuatu yang ajaib terjadi.

Sesuatu yang tidak aneh. Yah, sesuatu yang wajar.

Di depanku berdiri sebuah lemari besar, yang salah satu pintunya, utuh menempel sebuah cermin dengan kacanya yang begitu bening. Cermin yang berdiri lurus di depanku itu melukis jelas seluruh tubuhku. Aku mengenakan baju putih, aku melihat dengan jelas ada bercak-bercak lukis pola sablon membentuk sketsa sebuah wajah orang yang tidak aku kenal. Celana cokelat itu juga sama persis dengan apa yang pernah aku lihat di hutan siang tadi.

Tidak lagi membutuhkan waktu yang lama. Saat lampu di kamarku menyala, saat itu juga aku tahu bahwa aku tidak mimpi. Aku tidak pernah menjelajahi ruang dan waktu. Sesuatu yang ajaib itu terjadi. Menjelaskan! Aku baru saja, bangun dari tidurku.


CERPEN: CATATAN.WINKAMARU.COM