Welcome to www.winkamaru.com

Cerpen: Amnesia Yang Terlupakan


Aku. Aku lupa kalau siapa diriku ini. Dari tadi aku berpikir tentang diriku tetap saja aku tak mengetahui perihal tentangku. Ada apa sebenarnya ini? Bukankah aku dilahirkan dengan ingatan yang cukup?

Di atas tempat dudukku yang sekarang, aku masih sendiri. Mencari semua itu. Ini bukan karena ia terlalu istimewa tetapi ini tentang sebuah prinsip yang telah lama menggelapkannya. Aku hanya menguak kebingungan dengan menciptakan skeptis nyata. Biar aku punya teman.

Kini aku tenggelam kemudian terhuyung dalam sebuah duka. Bukan saja aku yang mengalami kejadian itu. Setiap orang yang ada di sekitarku pun mengalaminya. Aku semakin terjerumus. Kulihat seribu rundung duka mulai mengelupas. Tergantikan oleh jutaan riang yang belum Nampak kejelasannya.

Biar!

Kata itu tiba-tiba aku ingat, sedikit demi sedikit. Tetapi mulai terlihat jelas meskipun samar.

Biar!

Aku tidak ingin menemukan, meski aku telah mencarinya. Sesuatu itu begitu gelap untuk mengetahuinya aku harus memiliki referensi yang cukup.

Biar!

Lagipula aku tahu bahwa aku tidak akan pernah menemukannya, seperti kain halus yang hitam, ia menutup rapat-rapat hembusan napasnya. Mungkin mau mengurungku agar tidak leluasa bergerak. Sesaat ketika ia mengeluh keras, aku tahu bahwa dengan usaha yang bagaimanapun, semakin sulit untukku menemukan yang sedang menjadi pencarianku.

Biar!

Meski tidak sampai pada kejelasan, aku tidak berhenti.

Aku semakin tidak konsisten oleh keadaan ini. Kutelusuri satu-persatu semuanya dari awal. Meskipun kini aku mulai lupa lagi.

Biar!

Lagipula itu adalah cara sederhana yang bisa aku terapkan untuk menemukan sesuatu yang sulit ditemukan itu, aku tidak paham metodologi penelitian untuk masalah yang sedang kualami saat ini, biar peluh membakar, dan biar semua gelap. Aku tahu bahwa semua kejelasan yang masih misteri dan tidak akan pernah aku temukan jawaban pastinya. Aku masih berpikir bahwa kemustahilan akan terselesaikan dengan kemustahilan, filosofi ini mungkin kacau, karena aku memang telah mengacaukan semuanya.

Aku mulai gila. Setahuku, aku tidak pernah membahas tentang semua itu. Tapi megapa semuanya muncul secara tiba-tiba. Tahun ini aku melupakan tahun-tahun kemarin.

Jangan mengikuti jejakku jika tiba-tiba kamu harus mengalami hal serupa, ini bukan cerita yang sangat sederhana, membanjiri emosi dan menguak makna. Ini adalah tentang semua yang tidak pernah kita lihat sebelumnya. Dan tiba-tiba aku menjadi gila! Itu karena semua itu harus terjadi.

Tetap saja semua itu akan kulupakan. Meskipun kamu mengulangnya terus dan terus begitu seterusnya. Tapi aku sadar. Aku bukanlah aku, yang membuat kamu menjadi kamu.

Biar!

Kata itu yang harus kamu selipkan dalam alam bawah sadarmu, aku akan menerapkan hal yang serupa. Biarkan kata itu menjadi sugesti yang tertanam baik dan memberikan motivasi yang baik. Karena aku tahu, kamu tahu, dan mungkin dia juga tahu. Bahwa kita adalah pengecut, hanya menyelimuti diri dengan kegelapan yang tidak pernah kita tahu.

Aku tahu, kamu apakah iya? Sudahlah kejelasan ini masih misteri dan akan tetap menjadi kerjaku. Apa yang harus terjadi selanjutnya! Biar, biar berjalan saja. Lagipula kapan waktu berhenti?

Aku bukan saudaramu yang bisa kau atur sesukamu. Kamu tulis saja apa keinginanmu pada secarik kertas yang telah berdarah oleh tinta-tinta keperawananmu. Kemudian kamu hempaskan syair-syair duka ke dalamnya. Maka aku akan menurutimu. Titik!

Sampai saat ini, aku masih ingat apa yang tidak aku ingat, apa yang aku cari masih terus aku cari, darimana kamu harus menceramahiku, dan dia. Kalau bukan dari misteri yang kamu temukan kejelasannya. Dan aku! Hanyalah satu orang pengecut di antara orang yang pengecut, tanpa ada kata kecuali. SEMUA.

Aku mengerti arti kejelasan tapi aku tidak bisa menjelaskan, mungkin bisa menjadi nasib yang beradu dengan takdir atau kalau aku tidak salah takdir telah mengujiku dan menguji kamu, biar aku, kamu tahu bahwa kejelasan ini benar-benar sulit dijelaskan.

Mustahil!

Mulai sekarang aku dan kamu harus bersatu. Meskipun tidak akan pernah menyatu. Biar semua orang tahu bahwa kita benar-benar pernah bersatu. Jangan kau anggap bahwa saat ini aku sedang bercanda. Tidak demikian. Aku hanya ingin menyampaikan keluh kesahku pada semua duka yang kualami.

Nantinya, kalau sudah waktunya, tolong sampaikan salamku pada orang-orang yang tidak ingin kusalami.

Aku sebenarnya ingin tertawa, bahkan aku ingin ketika kamu menyaksikan ini kamu akan menutup telingamu rapat-rapat karena tidak bisa mendengar suara tawaku.

Padahal semestinya kamu harus tahu, bahwa aku tidak boleh mengeluarkan tawaku yang sekeras itu.

Mengapa?

Jelas saja, pertanyaannya adalah apa yang harus aku bahagiakan?

Tampaknya aku sendiri mencari kejelesan. Menemukan penyelesaian yang mustahil dengan metode yang mustahil. Kemustahilan Vs Kemustahilan adalah satu cara menemukan jawaban kemustahilan.

“Ahh…, sudahlah. Aku ingin berhenti!”

Meski sempat keluar kata itu dari mulutku, aku masih ingat.

Biar!

Aku tidak akan berhenti, seperti yang telah aku anjurkan tadi. Seperti aku yang tadi gila, seperti semua yang sampai sekarang, masih menjadi pertanyaan.

Tentu saja, semua harus seperti itu. Karena seharusnya begitu.

Jangan lupa, bahwa sebenarnya kamu telah aku peralat. Aku hanya ingin mempertemukan jiwa kita yang belum lama hilang.

Asal kamu tahu. Mungkin aku besok sedang tidak berada di sini.

Meskipun kamu telah aku beritahu, kenyataannya dari tadi aku memang tidak berada di sini, itu sudah memberikan anda jawaban bahwa sebenarnya sampai kapan pun, aku tidak akan pernah berada di sini.

Sudahlah, dari awal hingga sekarang kamu hanya memperalatku. Tapi yang jelas bahwa sebenarnya aku yang telah memperalatmu.

Sampai di sini, kamu ikut tahu bahwa kejelasan ini tidak akan menemukan kejelasannya. Seperti yang kamu harapkan.

CERPEN OLEH: CHADAR
* Cerita ini ditulis oleh dua orang, dengan saling menyumbang dan menyambung cerita.