Welcome to www.winkamaru.com

Cerpen: Aku dan Dunia


Hidup hanyalah sederetan kata yang akan menjadi rangkaian bait-bait serta kalimat-kalimat, membentuk dunia. Mungkin sebagian orang akan menganggap yang aku katakan ini adalah sebagai celoteh sembrono tanpa melihat kaidah kebenaran analisis berfilsafat. Tapi pada akhirnya mereka akan mengerti bahwa apa yang aku katakan ini adalah kebenaran hakiki yang sekarang telah terekam dalam jejak keseharian mereka juga jejak keseharianku, hanya saja semua itu kembali dipertanyakan.

“Apa yang menjadikannya bisa direkam, alat apa yang kamu gunakan?” pertanyaan itu datang dan mengomentari kejahilanku yang menganggap hidup hanyalah sederetan kata. “Ahh…, kamu ini selalu saja mempertanyakan apa yang aku bahas,” jawabku seketika di depan matanya yang tidak aku lihat, bahkan dirinya adalah sesuatu yang belum pernah aku visualisasikan menjadi icon agar bisa kalian pandangi juga.

“Kamu ini bagaimana sahabatku, kamu berbicara tapi tidak mau mendengar kata-kata orang lain, diriku ini kau anggap apa? Ingin jadi penguasa?” Dia mencemoohku, sedikit memojokan dengan nasehat-nasehat yang sudah sering mampir di telinga kiriku, “bukan begitu, kamu ini tiba-tiba datang dan menyerangku dengan pertanyaan-pertanyaan yang biasa diajukan seorang polisi menginterogasi tersangka, lebih parahnya kamu datang dan langsung mengaku sahabatku, kamu dan sikapmu ini adalah hal teraneh dan begitu membuat aku heran. Mengapa ada mahkluk seperti kamu di dunia ini?”

“Hahahaha…” Dia tertawa terpingkal-pingkal, seakan-akan ada yang lucu dengan ucapan yang baru saja aku utarakan, “kamu ini lucu sahabatku, aku adalah orang yang setiap saat menemanimu tetapi kau tidak pernah mengenaliku, padahal kau sering melihatku tanpa memandangku dan kali ini kamu menyorotkan matamu itu seakan-akan mencari aku, aku adalah polisi dalam duniaku yang bertugas menginterogasi kamu kapan dan di mana pun kamu dalam melakukan sesuatu.”

“Hahaha…” Aku kembali teratawa. Sedikit sinis, berusaha menyombongkan diri agar terlihat berkharisma dan berwibawa, “kamu ini aneh dan juga gila, menginterogasiku tanpa ada bukti dan fakta untuk menjadikan aku sebagai seorang tersangka,”

“jangan salah sahabatku, semua yang kamu lakukan adalah masalah yang menjadikan kamu tersangka, tidak perlu mengumpulkan bukti dan fakta masalahmu sudah mewakilimu untuk menjadi tersangka dalam kasusku kali ini.”

“Kasus apa yang sedang kau usung dengan permasalahanku kali ini?” Aku memandangnya tapi aku tak melihat wajahnya, dia banyak bercerita panjang lebar dan aku hanya banyak mendengar, tanpa menghiraukan sedikitpun untuk menyimak dengan baik. Aku seakan melihat sepertinya ia mulai kelelahan, bahasanya mulai melambat mungkin pikirannya atau perasaannya mulai kacau karena aku dari tadi tak acuh untuk memperhatikan dia.

“Ini minum dulu.”

Aku memberikannya segelas air putih, tapi ia tidak meminumnya habis, bahkan setelah aku lihat, air minum yang aku berikan itu, seakan tidak disentuhnya sedikit pun, tetapi anehnya ia bilang terima kasih telah memberikannya minum, minuman tersebut sedikit membuat tenggorokannya lega.

“Apa benar kamu meminumnya?”

Aku bertanya kepadanya untuk meyakinkan diriku.

“Iya aku meminumnya,”

“tapi aku tidak melihatmu meminumnya.”

“Hahaha…, kamu ini lucu, apakah dari tadi kamu melihatku?”

“Hahaha…” Aku ikut tertawa, benar apa katanya aku tidak melihatnya dan tidak akan pernah, dengan memandangnya saja aku masih berpikir dan mencari di mana wajahnya.

“Kamu sudah tahu kasus yang aku sedang kerjakan sekarang?”

“Apa itu?”

“Kamu baru saja memulainya dengan mengatakan bahwa hidup hanyalah sederetan kata yang akan menjadi rangkaian bait-bait serta kalimat-kalimat, membentuk dunia. Apa kamu tidak salah?”

Aku dan dia mulai akur, “hahaha…, aku anggap apa yang aku katakan itu adalah benar, mengapa kamu menjadikan hal ini sebagai kasus?”

“Bukankah tadi sudah aku bilang! Setiap masalah yang kamu buat adalah bukti dan fakta yang menjadikan kamu tersangka dalam setiap kasusku!”

“Huhh…, nampaknya seperti itu, tapi itu adalah kebenaran menurutku, bukan masalah yang harus kamu usung dalam setiap kasusmu.”

“Aku tahu itu, tetapi benar dan tidak benar adalah masalahmu, itulah yang menjadi kasusku.” Sepertinya dia sengaja menguji cara berpikirku. Dia bertanya agar aku menjawab pertanyaannya, menjawab sebuah permasalahan yang menjadi kasusnya kali ini.

“Baiklah aku akan menjelaskan maksudku kepadamu.”

“Silakan aku akan mendengar ceritamu, aku sudah menunggu sejak tadi agar kamu mau membicarakan ini.”

Aku jadi memahami, ternyata sudah dari tadi dia mengumpulkan bahan untuk kasusnya kali ini. Tapi sebelum aku harus melanjutkan bicaraku, menjawab pertanyaan yang telah ia lontarkan, tiba-tiba ia pergi dan meninggalkan sebuah kertas dan pena di atas mejaku dan menyuruhku untuk menuliskannya, menggunakan pusaka yang ia berikan kepadaku.

Mahkluk aneh muncul suka-suka pergi juga suka-suka.

“Sstt…, awas jangan sampai ia dengar!” Aku tidak percaya kalau ia sudah pergi, aku mencarinya di setiap sudut pandangku, dari membuka mata sampai menutup mata aku terus mencari, tapi dirinya tidak pernah aku lihat, aku berusaha lagi mencari sampai pada akhirnya aku harus memahami bahwa aku tidak akan menemukannya kali ini.

Tapi aku tidak putus asa, hari demi hari aku mencarinya, kalau di kampus aku banyak menyendiri untuk bisa mencarinya dan menceritakan semuanya kepadanya, tapi semua nihil, akhirnya aku pun menggunakan cara praktis untuk mencarinya, aku membuka akun facebook­-ku, dan menelusuri teman-teman yang sempat menjalin pertemanan denganku, tetapi lagi-lagi nihil aku tidak menemukannya juga, aku coba membuka akun Twitter-ku tapi nihil juga, bahkan meski aku menggunakan Search Engine seperti google.com, yahoo.com, dll. Semuanya masih juga nihil. Aku tidak tahu apakah dia sedang bersembunyi atau hanya sekedar mengerjaiku saja atau mungkin saja ia sedang mengamatiku dari jauh.

Aku kemudian duduk dan berpikir, suasana begitu menenangkan angin sejuk mulai menghebuskan kesejukannya seakan–akan ia ingin berkata kepadaku lihatlah ini aku sedang memberikan kesejukan kepadamu bersyukurlah karena bakatku ini kamu bisa melegakan amarahmu dan segala kebimbangan di setiap sela masalahmu. Seakan-akan benar kalau dia tahu bahwa banyak yang telah terjadi.

Hari begitu menentramkan, ditemani tarian daun-daun pohon akasia yang seperti rambut jatuh bersama sapuan angin, mereka asyik menari dan bersenda gurau menghiburku, seakan-akan mengajakku untuk bermain bersama mereka. Namun usaha mereka sia-sia aku dari tadi hanya duduk dan melihat apa yang sedang mereka perbuat tanpa harus menyimak dan menanggapi dengan serius maksud mereka menghiburku, bagaimana tidak sedikit pun tak ada rasa yang bisa membuat aku terhibur.

***

Aku harus bagaimana lagi, aku memandangi laut dengan perasaan yang begitu damai. Hanya tinggal lautan dan gunung-gunung yang belum aku seberangi untuk menemukan dia. Dunia ini begitu luas, tidak mungkin menemukan orang seperti ini dengan cara yang mudah.

“Ahh..., mahkluk aneh ini mengerjaiku!” Gerutu itu keluar bersama kekesalanku, mataku sudah empat malam ini tidak pernah merasa lelap. Setiap detik pikiranku hanya mencari cara untuk bisa menemukannya.

Pusaka pemberiannya aku biarkan diam di atas meja belajar yang sudah menjadi meja kerjaku tiap malam. Meja yang selama ini telah menopang segala kekesalan, segala keluhan, segala amarah, segala kebencian, segala kritik dan semuanya yang tidak lepas dari diri orang lemah sepertiku.

Sudah berpuluh-puluh lembar kertas tersusun rapi di atas mejaku, hanya pusaka itu yang tidak pernah aku sentuh. Aku masih mencari dirinya, apa keinginannya.

Dia mengatakan kalau ia sedang mengusung kasus dari permasalahanku. Tetapi ketika muncul permasalahan yang baru dia tidak kembali untuk menanyakan dan mengusung kasus yang memang benar-benar menjadi masalahku kini. “Apakah mencarinya dengan susah payah bukan masalah? Mengapa dia tidak datang mengusung kasus baru ini?” Aku tidak habis pikir kalau dia benar-benar telah menarik ludahnya. Ucapannya ternyata sama seperti angin lalu, yang lepas begitu saja. Aku berpikir kalau aku benar-benar telah dibodohi, dengan ucapannya itu.

***

Matahari mulai menguning di ufuk timur, gerbong kegelapan segera dibuka kembali, pintu cahaya akan ditutup kali ini. malam akan menyingsing hanya beberapa menit lagi. Sebelum itu aku sempat melihat beberapa anak kecil berlarian mengisi bibir pantai, ombak begitu mengguncah, mereka asyik menyusup di sela gulungan ombak yang memecah dengan gemuruh yang cukup luar biasa. Beberapa dari mereka kemudian berlarian mengambil pakaian mereka di atas pasir pantai, lalu menyusul lagi yang lainnya, sehingga ombak benar-benar telah sepi tidak lagi memiliki teman bermain .

Dari jarak yang tidak begitu jauh, aku melihat seorang pria yang sepertinya tidak lagi bisa dibilang muda usianya dan tidak bisa juga dibilang tua usianya ikut berlarian mengejar anak-anak itu. Ia memegang sesuatu di tangannya, sepertinya itu dapat digunakan untuk memukul. Tidak salah lagi itu Pak Mus, yang biasa melarang anak-anak mandi di bibir pantai dengan ombak yang cukup membuat gemuruh seluruh isi desa. Beliau adalah seorang pahlawan bagi orang tua anak-anak itu, yang sibuk dengan urusan-urusan pelik, sehingga tidak sempat memperhatikan anak-anaknya bermain.

Aku duduk di atas sebuah perahu terbalik, terus memandangi matahari yang akan segera ditutup. Aku ingin mengamati bagaimana pintu kegelapan dibuka. Tidak lepas dari itu, pikiranku terbesit keingintahuan yang begitu membuat penasaran. Angin berlalu dengan nyanyian sayunya, gemuruh ombak masih saja tetap sama. Di sisiku telah benar-benar gelap.

***

Setelah lampu kunyalakan, kamarku terlihat berantakan, tumpukan kertas yang tersusun rapi di atas meja, berserakan. Beberapa lembar kertas aku melihat merayap di lantai, beberapa lagi aku melihat tidur di atas tempat tidurku, beberapa terpajang rapi di dinding-dinding kamarku, bahkan sampai bergelantungan di atas langit-langit kamar. Aku mengambilnya satu-satu. Siapa yang telah melakukan ini?

Pertanyaan itu kemudian menjadi benar-benar bisu. Mulutku menganga tanpa ada sejeda ucapan pun yang mengeluarkan nada histeris, sepertinya hanya angin yang lalu-lalang di rongga mulutku. Mataku juga tidak ikut diam bersama keningku yang lekat dan berkerut.

Tubuhku jadi seakan kaku, tapi aku masih bisa menggunakan kedua tanganku mengangkat pusaka pemberian orang itu, orang yang menamai dirinya seorang polisi, orang yang mengatakan bahwa setiap masalah yang aku ciptakan adalah kasusnya. Dia orang yang selama ini aku cari. Tapi ini menyangkut dengan pusaka pemberiannya itu.

Aku memperhatikan pusaka itu, pena itu terlihat kaku dan di atas kertas tertulis dengan jelas sebuah pertanyaan memakai tinta yang hitam pekat. Sepertinya ia bertanya dan menyuruhku.

Aku mencoba mengeja tulisan itu. “Apa yang anda pikirkan?”

CERPEN: CATATAN.WINKAMARU.COM