Welcome to www.winkamaru.com

Bertanya Tentang Makna Pancasila: Saktikah?


Pada ukuran yang sebenarnya, dia tidak pernah mengerti arti kebangsaan dan nasionalisme. Dia sering bertanya tentang semua hal yang menurutnya adalah retoris. Tapi, yang tidak bisa dia jaga adalah mengapa dia harus mempertanyakan hal itu juga.

Sudah beratus-ratus kilometer jarak waktu sejak kemerdekaan Indonesia sampai pada sejarah yang menjadi polemik di sejarah kebangsaan: kesaktian pancasila, PKI, kemerdekaan, perjuangan, dan penindasan.

Dia pernah bertanya kepada seseorang yang tidak pernah ia kenal dan memang tidak ingin ia mengenalnya.

“Apakah negaraku sakti dengan pancasila nya?”

Meski telah menggunakan suryakanta memperbesar fokus simak, jawaban orang itu tidak memuaskan rasa hausnya. Memang, dahaganya tidak dapat disuap dengan teori-teori yang baginya bertolak belakang dengan berbagai paham dan idealis nya.

“Kesaktian pancasila lah yang membebaskan indonesia dari pemberontakan PKI”

Tapi, dari sudut lain ia memahami arti yang berbeda tentang pemberontakan PKI. Dia tidak tahu harus mempercayai siapa, sebab negara indonesia bagi dia telah dipimpin oleh para pembohong, penjudi, pencuri, dan diisi oleh para petani yang bukan ahli bercocok tanam membangun ladang pekerjaan mencari uang.

Pernah juga dia mendengar PKI adalah kambing hitam atau nama lain Kudeta seseorang. Kalau PKI tidak salah, bukankah miris menilai mereka dan membantai semuanya seperti itu?

“Mengapa bisa dosa begitu jijik dilihat dari sejarah negeri ini, siapa yang harus disalahkan dan siapa yang harus dibenarkan?”

Sebab bagi dia kebenaran dan kejujuran di tanah Indonesia ini hanyalah label berbeda yang berisi sama. Bagi dia, kebenaran adalah kepada siapa yang paling kuat memanipulasi keadaan menguatkan argumennya. 

Kebenaran hanya akan tercapai ketika menang, apapun caranya tidak ada makruh, tidak ada haram, tidak ada semua itu. Yang ada hanya Halal.

Dia pernah pula bertanya pada teman mahasiswanya yang notabenenya adalah mahasiswa semester lanjut ilmu hukum dan politik.

“Apa pentingnya politik bagi negara?”

Tapi, lagi-lagi dia tidak pernah puas dengan jawaban yang ada.

“Politik dilihat saja secara sederhana, sebagai alat yang dapat difungsikan membangun bangsa, memperkuat kesatuan dan keutuhan negara!”

Semua teman yang pernah Dia tanyakan selalu menjawab dengan jawaban yang sama. Politik seperti sebuah pisau di dapur, kegunaannya tergantung pada siapa pemakainya dan untuk apa.

“Ahh…, ada berbagai persoalan yang tidak pernah bisa diselesaikan!”

Di era Soekarno dan Hatta, Politik difungsikan sebagai media atau alat untuk menuju kepada kemerdekaan indonesia. Sekarang, setelah di masa ini.

Era Kemerdekaan katanya! Politik nampaknya disulap menjadi tempat atau lahan pekerjaan. Barangkali paling tepat lahan pertanian atau perekonomian.

“Mengumpul kekayaan. Sepertinya!”

Hampir sama dia seakan bersenandika, “Tunggu saja kalau aku memiliki kekuasaan, aku tidak ingin menunggu lama, aku ingin segera negeri ini hancur dan kalau perlu lenyap dari muka bumi. Sebab, masih ada untungnya. Supaya menjadi pelajaran yang baik bagi kemajuan bangsa.

Sebab bagi dia, cara ini lebih baik sebab negeri ini akan diberi penghargaan sebagai negeri yang memberikan pelajaran penting bagi bangsa lain. Daripada dianggap remeh bukankah menjadi begini adalah satu-satunya cara negeri ini menjadi negeri yang luar biasa dan terpandang?

“Ahh…, tapi apa gunanya penghargaan itu?”

Paling tidak gunanya adalah pengabdian atau pengorbanan. Menurutnya itu lebih nikmat daripada harus bertikai dengan kebenaran dan kebohongan.

Siul-siul bunyi gitar jati

Bagai sajak dan nyanyian

Ikhlaskan negeriku mati

Titip kenangan pengabdian

IKHLAS TIDAK IKHLAS

RELA TIDAK RELA

MESKI TERASA PEDAS

RELA DIA RELA

MERDEKALAH NEGERIKU, KEMATIANMU ADALAH ILMU UNTUK NEGERI YANG BARU.

KALAU KAMU MATI BENARAN, MAKA ITU LEBIH BAIK DARIPADA HIDUP DALAM KEPALSUAN NEGERI INI.

***
WIn Kamaru - Bertanya dalam catatan yang tidak perlu dijawab…