Welcome to www.winkamaru.com

Cerpen: SIUL


“Ahh…, kamu hanya asal bersiul” tegur Dita yang tidak senang dengan kata-kata Rio, “maksudmu apa, Dita?” Rio agak kesal, “aku tidak punya maksud apa-apa dengan ucapan tadi, aku hanya bilang kamu hanya asal bersiul, bukan hanya kamu yang bisa mengeong, kucing pun lebih ahli dibandingkan dirimu!”

Rio terlihat gamang, telinganya berdengung dan raut wajahnya terlukis kekesalan yang begitu kental, pandangannya lurus ke Dita, nafasnya ikut naik turun seakan-akan menandakan aliran darahnya sedang mengalir deras.

Tidak seperti Dita, wajahnya berseri-seri, senyumnya ikut mencuat-cuat seakan ia ingin menyanyikan sebuah lagu, rasanya ingin sekali ia mencungkil dan mematahkan prinsip Rio, menurut Dita Rio hanyalah seperti laki-laki pada umumnya, menganggap diri mereka hebat, selalu memamerkan sesuatu yang mereka anggap adalah pamungkas untuk menarik perhatian perempuan.

Berkata sok hebat, bahkan seakan-akan dengan kata-kata mereka berprinsip di depan seorang perempuan mengatakan bahwa seakan dunia hanyalah panggung sandiwara yang mudah didesain dan diubah seting-nya. Manusia hanyalah aktor peran di dunia ini, jadi masalah hanyalah secuil makanan ringan yang dengan mudah dapat dikunyah lalu dimuntahkan.

“Bulsyit.., omong kosong" Dewa pun tidak bisa menjalankan roda pemerintahannya sendiri, mereka membagi tugas untuk itu, sementara laki-laki menganggap dirinya lebih dari dewa, mungkin iya mereka mau menyaingi Tuhan.

Dita terlihat diam namun dalam dirinya ia sangat membenci bualan dan omong kosong laki-laki yang menganggap diri mereka hebat.

Rio yang tidak tahan dengan apa yang dialaminya, ia lalu memutuskan pergi dan meninggalkan Dita, dalam diri Rio ia berkata, “Perempuan adalah mahkluk lemah, mereka mungkin mengerti rasa sakit, tapi mereka tidak mengerti apa itu kebahagiaan, yang mereka tahu kebahagiaan hanyalah apabila keinginan mereka itu dipenuhi, yah... kemanjaan itu yang mereka inginkan, mereka menganggap itulah kebahagiaan, padahal candu nyata yang akan menyesatkan mereka saja, dasar perempuan,” kekesalan Rio terhadap Dita sepertinya mengantarkan ia kepada suatu misteri, misteri yang ingin ia selidiki, yang ingin ia pahami, mengapa perempuan terlalu sinis dan pencuriga terhadap laki-laki.

***

Matahari sudah bertengger di sudut barat, hari sudah sore. Dita yang dari tadi mengarahkan pandangannya ke arah kekesalannya, hanya mampu diam dan duduk menundukan kepala, serta menerima dinginnya angin yang sempat menghampirinya, ia tidak berpikir apa-apa, di sekelilingnya telah sunyi, sepeda motor di tempat parkir sudah hampir tidak tersisa, ia melirik-lirik tapi fakultas rupanya sudah sepi, meski beberapa orang masih terlihat mondar-mandir dengan kesibukan mereka. Ia lalu meninggalkan tempat duduknya yang sedari tadi hampir remuk, karena terlalu lama berada di bawah kendali Dita, bukan berarti Dita adalah seorang perempuan yang berpostur tubuh besar atau gendut, tapi ada masalah yang membebaninya, masalah yang harus dilaluinya.

Semenjak menjalani hidup berjuang mencari sesuatu yang sering disebut cita-cita, ia harus mengalami nasib sial yang sebenarnya tidak, tapi itu, sudah cukup membuat ia luka dan sakit.

Bukan tertusuk padamu berdarah padaku tetapi tertusuk padaku berdarah juga padaku.

Dita seakan merasakan kegelisahan dan kebahagian yang tidak dimengertinya, ia tidak tahu telah terjadi pertikaian antara keinginan dan kesabaran di dalam dirinya. Ia ingin bahagia tetapi kebahagiaan itu kemudian akan membuatnya bahagia apabila ia bisa menciptakan kebahagiaan.

Dita harus sabar menanti semua itu. Menurut Dita kebahagiaan pasti akan datang, ia tidak takut dengan konsekuensi yang akan ia dapatkan nanti, ia hanya percaya dengan sabar ia akan sampai juga pada masa penantiannya itu.

***

Meski perempuan terlihat begitu ceria, mereka sebenarnya menyimpan luka, rasa sakit yang tidak pernah dimengerti oleh orang lain, apalagi laki-laki.

Dita merasakan dirinya adalah salah satu di antara permpuan-perempuan yang selalu merasakan getir dari rasa sakit, ia kemudian bertanya dalam hati, “apakah laki-laki pernah merasakan rasa sakit yang sama? Apakah mereka pernah mengalami perasaan luka seperti yang dialami perempuan?” Dita bertanya-tanya, namun ia tetap tidak yakin, sebab laki-laki hanya seperti orang-orang hebat yang tidak mengeri arti kelemahan, mereka menanggapi sesuatu itu dengan enteng, bahkan mereka tidak pernah memikirkan apa itu bahagia, mereka hanya tahu beginilah jika ingin menciptakan kebahagian.

Mereka hanya mencurangi hidup dengan berlaku yang tidak sewajarnya untuk menciptakan kebahagiaan mereka. Mereka hanya pikir hidup sekali, sehingga kesenangan itu yang mereka agungkan sebagai kebahagiaan, “jangan menyia-nyiakan kesempatan untuk bersenang-senang.”

Mereka hanya menanggapi arti kehidupan itu dengan happy, mereka hanya menganggap masalah sebagai pengganggu saja bagi mereka, sehingga masalah hanyalah menjadi dokumen-dokumen yang tersimpan rapi di lemari-lemari baja yang dikunci dengan anggur, minuman-minuman beralkohol, mereka mengira hidup hanyalah untuk kemudahan dan untuk kesenangan, perempuan-perempuan seperti kami hanya menjadi tameng pembebasan diri mereka dari kegelisahan dan kegetiran hidup, dasar pecundang.

***

Semilir angin begitu menyerupai kegelisahan, embun telah menetes dan leleh berjatuhan dari daun-daun talas, suasana begitu tenang, aroma kelaparan tercium lengket di hidung Dita. menandakan bahwa malam baru saja usai.

Pagi itu adalah misteri bagi Rio, wajahnya basah, bukan karena ia menangis, sebab laki-laki seperti Rio tangis adalah hal tercengeng yang tidak perlu diterapkan dalam hidup.
Ia kemudian berdiri di belakang rumah dan menengadahkan wajahnya ke atas, mentari begitu hangat, angin begitu menenangkan. Jiwanya terasa hangat dan bersemangat.

Matahari pagi bagi Rio adalah simbol semangat yang akan melahirkan jiwa yang kuat dalam melewati hari.

Tiba-tiba handphone Rio berdering, rupanya ada satu pesan singkat dari Sri.

“Hai…, pagi untuk jiwa yang bersemangat, aku menunggu janjimu, aku merindukanmu, aku berharap dusta adalah kebohongan, aku menginginkanmu, rindu telah memenjarakan aku dalam cinta.” Rio membacanya dengan begitu tenang, wajahnya seakan bercahaya senyumnya lepas kendali, tapi keningnya berkerut.

Mungkin itu adalah kata-kata terindah, tapi bagi Rio itu adalah harapan, itu adalah kesabaran, itu adalah kelemahan yang berusaha menjadi kuat. Tapi wanita adalah mahkluk lemah ia pasti sedang tersiksa, tapi apa yang harus ia lakukan? Rio menghela nafas, jari-jari tangannya mengheja huruf-huruf yang ada di handphone-nya, kemudian ia menekan send. “Pagi juga untuk jiwa yang masih berusaha kuat, maaf bila kamu tersiksa, aku tidak bermaksud memenjarakan kamu dalam rindu, tunggulah sejenak. Aku akan menjadikanmu ratu di isatana yang sedang kamu inginkan, tunggulah sejenak!”

Selepas mengirim pesan singkat itu kepada Sri, ia menatap tajam ke arah cermin yang berdiri lurus di depan pandangannya, wajah itu terlihat lesu, meski tubuh itu berdiri tegap dangan senyum yang memaksa.

Lapisan wajahnya hampir saja pudar, kemudian ia sadar ternyata ia telah benar-benar membuat seorang perempuan tersiksa. Namun ia belum bisa berbuat banyak, ingin ia mengalahkan nasib dan merubah skenario cerita itu, semangatnya meluap-luap bersama debaran jantungnya dan dalam aliran darahnya ibarat air yang berusaha menjebol bendungan-bendungan penderitaan Sri. Meski memiliki harapan yang kuat, ia juga sadar sekuat apa pun dirinya, ada kelemahan yang lengket bersamanya, hanya saja Rio tidak ingin kelemahan itu menguasaianya.

***

Sehabis sarapan pagi Dita mengendarai aspal menuju harapannya, harapan yang telah menjadi cita-citanya, meski ia sadar cita-cita itu hanya beberapa persen dari dirinya, semua itu tidak akan lengkap tanpa kepastian nyata dari harapan sesungguhnya yang ia inginkan.

Tepat di persimpangan jalan ia melihat Rio yang sedang mengayuhkan langkahnya menuju arah yang sama dengannya.

“Prak…!!!” suara itu begitu keras, terdengar jelas di telinga Dita, ia tidak terkejut dangan suara yang begitu keras, namun terjadi pergulatan histeris dalam dirinya, ketika melihat sepeda motor berwarna merah melikuk di persimpangan jalan itu menabrak seorang laki-laki yang sedang berjalan kaki.

“Rio…!” teriak Dita begitu histerisnya, Rio terbaring bisu, darah dari kepalanya terlihat mengalir, rupanya benturan keras akibat jatuh. Rio mengalami pening yang begitu pilu, warna merah saga mengelilingi tubuh Rio yang terbaring. Dita berlari mendekati Rio, perasaan bencinya terhadap Rio sirna seketika, ia menjadi iba dan begitu merasa berdosa,
“Rio… Rio?” Dita menggoyang-goyangkan tubuh Rio berharap ada sepatah kata yang bisa terucap dari mulut Rio, ternyata air mata Dita pun menetes ia tidak mengerti dan memahami hal yang terjadi saat itu.

Dita hanya tahu salah seorang temannya telah mengalami luka, perempuan adalah perasaan yang begitu peka dengan luka dan siksa, tentu saja Dita menangis luka dan siksa adalah rasa yang selalu menemaninya, kini hal itu terjadi pada seorang temannya.

“Tolong…, tolong…!” teriak Dita meminta bantuan.

Mobil berwarna hitam mengkilat mendekati Dita, tidak menunggu lama seorang pemuda keluar dari dalam mobil dan tanpa basa-basi ia langsung mengusung tubuh Rio ke dalam mobil. Dita mengambil tas Rio dan ikut masuk ke dalam mobil. Rio pun di larikan ke Rumah Sakit.

***

Rumah sakit terlihat begitu ramai. Dita terlihat bingung matanya liar, setelah pintu mobil terbuka, dengan sekejap terlihat sekelompok orang berkerumuanan mengusung tubuh Rio. Rio langsung dilarikan ke ruang UGD. Pemuda yang mengantar Dita dan membawa Rio ke Rumah Sakit terlihat begitu sibuk. Dita tidak tahu harus berbuat apa, pemuda itu menyuruhnya untuk duduk dan menunggu di kursi. Dita hanya menuruti.
Terlihat percakapan pemuda itu dan tangis histeris seorang ibu, mungkin itu adalah Ibu Rio, gumam Dita.

Tidak mengerti harus berbuat apa. Dita menelpon Reza, tapi sama sekali tidak ada jawaban, mungkin Reza sibuk padahal Dita ingin sekali menangis dan mendengar suara Reza untuk menghibur dirinya.

Meski sangat membenci laki-laki, beda kepada Reza. Reza alasan mengapa Dita harus tersiksa dengan luka yang begitu memilukan, hidup dari bayang-bayang harapan yang tak pasti, namun tidak mengerti mengapa Dita percaya akan harapan yang ia nantikan, ia tidak mengerti pula mengapa, tapi hanya Reza yang ia percaya, sebab segala isi hati, segala duka, Reza adalah laki-laki yang mengerti perasaanya.

Kecocokan itu yang kemudian membuat Dita begitu mencintai Reza. Akhirnya Dita hanya mampu mengirim pesan singkat kepada Reza, “Hari ini aku ingin kamu menghibur diriku, aku tahu kamu terlalu sibuk, tapi hari ini aku begitu duka, aku begitu berdosa, kepada seseorang yang aku benci, aku ingin kamu menghiburku, aku tahu kamu pasti mengerti aku” Detik telah berubah menjadi menit-menit yang telah menandakan duka, tak ada satu pun jawaban dari Reza, seorang pemuda mendekati Dita yang sedang tertidur.

“Permisi…” pemuda itu mengulangi perkataannya itu hingga hampir tidak terhitung, “yah…” jawab Dita. Pemuda yang membawanya ke rumah sakit itu pun menatap Dita dengan begitu sedih, matanya terlihat memerah.

“Ada apa bang?” Tanya Dita “temanmu itu telah meninggal dunia!” jawab pemuda itu. Dita terdiam, mulutnya bisu, air matanya tidak lagi berlinang, mungkin telah habis sejak tadi atau karena terlalu sering ia menangis sejak dulu, atau mungkin ia merasa kesal, kekesalan akan pertanyaan yang tidak terjawab, mungkin Reza. Tapi apakah iya? Itu tidak mungkin, saat itu Dita berusaha agar bisa menjadi kuat, sepertinya ia mengingat kata-kata Rio waktu itu.

“Hidup adalah nikmat, bukan siksa. Meski nanti kita akan mendapati berbagai macam masalah, anggaplah sebagai angin lalu yang sedang melirikmu, kalau perlu anggaplah semua itu hanya dongeng dan drama yang bisa kamu ubah skenarionya, agar kamu tidak terlalu merasa sakit atau tersiksa, lagi pula masalah adalah bumbu dari kebahagiaan, nikmat dalam hidup ini.” Sepertinya kata-kata Rio itu mampu membendung rasa haru Dita, kehilangan seorang teman, memang membuat Dita sakit tapi ia berusaha mengubah skenario itu bahwa hari ini adalah pesta kebahagiaan Rio.

***

Dita menghadiri pemakaman Rio sore itu di pemakaman keluarga, Dita pun ikut yasinan, Ibu Rio menghamburkan bunga di atas tanah yang membentuk gunung, tempat pembaringan terakhir Rio, lalu menyiramnya. Setelah pemakaman, satu persatu orang-orang yang hadir mulai kembali. Ibu Rio terlihat begitu sedih, bahkan sebelum pergi ia masih sempat mencium Nisan Rio. Dita ikut terharu.

Dita memandangi gumpalan tanah yang menggunung, terlihat seperti taman dengan bunga-bunga indah yang menghiasi peristirahatan terakhir Rio. Ada sesuatu yang ingin Dita bicarakan, ia lalu mengambil tas Rio lalu membuka isinya.

“Apa maksudmu Rio?” Tanya Dita kepada Rio yang saat ini telah bahagia dengan surganya, Dita menangis karena tak ada jawaban dari mulut Rio. Sambil mengambil handphone Rio. Dita memperlihatkan sms Sri kepada Rio sambil mencocokkan sms terkirim dari handphone-nya.

“Hai…, pagi untuk jiwa yang bersemangat, aku menunggu janjimu, aku merindukanmu, aku berharap dusta adalah kebohongan, aku menginginkanmu, rindu telah memenjarakan aku dalam cinta.”

Dita juga membuka halaman buku harian Rio, ia bertanya lagi “masih ada Rio, bukan hanya itu. Apa maksud kamu menulis ini!” dengan nada suara yang telah berubah, suara Dita putus-putus, tanggannya tidak lagi mampu mengangkat buku harian Rio, itu terasa berat.

Dita berusaha kuat lalu ia membacanya.

“Untukmu Sri, aku sudah lama memenjarakanmu dalam kerinduan, aku memenjarakanmu dengan cinta, setiap kali kamu ingin semua dusta ini adalah kebohongan, aku ingin sekali mengatakan bahwa dusta ini memang kebohongan, aku kagum dengan harapanmu, meski aku telah membuat kamu luka dan tersiksa. Tunggulah aku. Aku pasti akan segera menemuimu. Aku adalah Rezamu.”

Kali ini Dita tidak lagi mampu menahan emosinya, air mata tidak bisa lagi dibendung, pilunya tidak lagi seperti biasa, kepalanya begitu pening, duka begitu memilukan. Rio adalah Reza.
_______

Gorontalo, 21 November 2013. 09.30 Pm Wita.


CERPEN: CATATAN.WINKAMARU.COM